Iman Tidak Terima Jadi

Saya kadang merasa malas ikut kursus TOEFL. Biasanya mengandalkan intuisi dan kebanyakan intuisinya tidak keliru, dan kursus itu maunya mempertanggungjawabkan intuisi, mengoreksinya kalau keliru. Malas saya berurusan dengan istilah-istilah teknis linguistik! Tapi ya saya mesti konsekuen dengan apa yang saya buat dengan blog ini: sudah tahu orang cenderung maunya terima jadi, beli pakaian jadi, ikut seminar untuk menerima tips sukses, pergi ke tempat ibadat untuk mendengarkan nasihat-nasihat moral (yang menjijikkan), cari shortcut untuk hasil yang menggiurkan, dan sebagainya, kok ya gak bikin blog yang isinya tips sukses, kata-kata emas, nasihat moral, kunci jawaban, dan sejenisnya?!

Memang saya tak ingin mengidentifikasi diri dengan Tomas dan Filipus. Setelah kemarin dinarasikan penulis Yohanes sosok Tomas yang berpikir sistematis, hari ini disodorkan sosok Filipus yang lebih straightforward lagi: wes to, dari dulu omong aja anak Allah, anak Bapa, aku dan Bapa satu, Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa! Sekarang tunjukkan saja Bapa itu mana, nanti kan otomatis orang ngerti dan percaya apa yang kamu omongkan itu!

Entah Tomas atau Filipus, keduanya belum bisa lepas dari kerangka pikir satu arah: subjek-objek. Mereka tak masuk dalam pengalaman perjumpaan yang autentik dengan guru mereka. Bisa dimaklumi, mereka mencoba meletakkan kebenaran, kebijakan hidup juga dalam kerangka kognitif belaka, tanpa keterlibatan afektif yang hanya mungkin ditempuh lewat pengalaman. Tanpa pengalaman autentik, kebenaran hanya jadi wacana yang bolak-balik hanya akan jadi bahan perdebatan, yang kerap kali bukannya menarik orang pada kebenaran, melainkan malah menjerumuskannya pada fanatisme sempit.

Itulah yang terjadi pada jemaat Kristen awal pada teks bacaan pertama. Paulus dan Barnabas yang memberitakan warta gembira pada kelompok kafir (menurut kacamata orang Yahudi) dibantah habis-habisan oleh orang Yahudi yang merasa iri karena mereka memberi pengajaran bahwa orang-orang non-Yahudi itu juga mendapat keselamatan yang disodorkan kepada bangsa Yahudi. Hmmm…. jangan-jangan Romo ini iri seperti orang-orang Yahudi ya kok sempat-sempatnya nulis soal kristenisasi yang nonsense? Romo iri ya kelompok Kristen berhasil dengan gerilya mereka menarik orang Katolik jadi jemaat mereka?

Gak juga sih. Pun kalau kelompok Kristen macam itu membawa semua uskup masuk dalam hitungan jemaat mereka, sumonggo saja. Iman saya tak tergantung pada uskup. Saya ingat pesan Paus Fransiskus: we cannot forget that evangelization is first and foremost about preaching the Gospel to those who do not know Jesus Christ or who have always rejected him…Christians have the duty to proclaim the Gospel without excluding anyone. Instead of seeming to impose new obligations, they should appear as people who wish to share their joy, who point to a horizon of beauty and who invite others to a delicious banquet. It is not by proselytizing that the Church grows, but “by attraction”.

Menarik orang untuk masuk kelompok religius dan malah membuatnya menghalalkan darah keluarganya atau membenci orang tuanya sendiri dan sejenisnya, itu jelas indikasi kuat terhadap pewartaan kabar gembira yang eksklusif. Pewartaan macam ini mengutamakan jumlah, dan dengan sendirinya tidak autentik.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat fokus pada kabar gembira-Mu lebih daripada asesoris-asesorisnya. Amin.


SABTU PASKA IV
23 April 2016

Kis 13,44-52
Yoh 14,7-14

Posting Tahun 2015: Shortcut to God
Posting Tahun 2014: Akal versus Okol

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s