Ribut Melulu di Dalam?

Ini contekan dari kotbah tetangga sebelah yang mempermainkan kata luar biasa dan biasa di luar. Poinnya, peristiwa Pentakosta itu ya sebetulnya peristiwa biasa saja. Selama tujuh minggu pasca kebangkitan, para rasul tetap diliputi rasa takut terhadap orang-orang Yahudi (padahal mereka itu ya orang Yahudi) sehingga mereka ngendon di senakel, kamar loteng. Paling-paling keluar untuk beli roti atau njemur pakaian, halah….

Nah, beberapa kali Yesus menampakkan diri kepada mereka juga di senakel itu. Kejadian-kejadian aneh seperti itu jadi biasa saja. Baru jadi luar biasa setelah Pentakosta memulai kebiasaan baru: para rasul berani keluar dari senakel dan malah biasa di luar. Untuk apa? Ya menularkan karunia roh itu toh:  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5,22-23 ITB). Bisa kita bayangkan jika penularan roh itu cuma dilakukan di dalam senakel: itu mah dah biasa, lagipula…njur ngopo kalau sibuk terus dalam senakel?

Barangkali perlu dipertanyakan: sementara Vatikan melakukan proses beatifikasi Oscar Romero menjelang Pentakosta, kok ya bisa-bisanya orang muda kita ribut soal liturgi ya (seolah-olah tak ada lagi tim liturgi). Moga-moga yang cawe-cawe dalam keributan itu hanya sebagian kecil dari sedikit orang muda yang kita punya dan sebagian besar lebih terlibat “di luar” dengan modal Roh Kudus tadi. Amin.


HARI RAYA PENTAKOSTA B/1
24 Mei 2015

Kis 2,1-11
Gal 5,16-25
Yoh 15,26-27;16,12-15

Posting Tahun Lalu: Pentakosta Sudah Dimulai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s