Being Patient – Being A Patient

Gus dur sabarKesabaran, patience, barangkali ada hubungannya dengan kata passion karena akar kata yang sama dalam bahasa Latin, passus. Artinya? Sengsara, menderita, tahan, memikul. Pokoknya ada unsur penderitaan yang ditanggung.

Seseorang yang sabar tentulah seorang pribadi yang tahan menanggung derita: derita dalam menemani seseorang yang butuh teman, derita dalam menunggu orang yang dinanti, derita dalam menanggung perlakuan sewenang-wenang orang lain, derita dalam ketekunan mengerjakan tugas rutin yang monoton dan lain sebagainya. Maka dari itu, terhadap orang yang kena musibah atau menderita sakit, orang kadang mengatakan sesuatu yang kurang lebih berbunyi, “Sabar, ya.”

Kesabaran ini tentu berkait erat dengan semangat pengampunan total (bdk. Mat 18,21-22), yang menjadi salah satu tiang penyangga hidup perkawinan. Jika kesabaran bisa diletakkan dalam skala 0-10, pada skala 0 orang tidak tidak punya kesabaran sama sekali dan hatinya begitu tegar. Terhadap suami-suami yang tegar hati seperti inilah “Musa memberi izin untuk menceraikan istri dengan membuat surat cerai”. Pada diri orang yang tegar hati, tak ada pengampunan, tak ada kapasitas untuk menanggung derita.

Tak mengherankan orang mudah kawin dan mudah cerai karena barangkali pikirnya hidup perkawinan itu seharusnya memudahkan orang, menghindarkan orang dari kesepian, menyenangkan, saling melengkapi dan bla bla bla lainnya… Menderita sedikit, orang sudah mencari-cari pembenaran untuk bercerai. Sakit hati sedikit saja, orang sudah menganggap persoalannya sangat prinsip. Ini merupakan indikasi krisis komitmen, justru karena kurangnya passion, hasrat cinta yang menghidupkan pribadi seseorang.

Memang, tak ada cinta tanpa komitmen dan cinta yang tak memuat kesabaran itu layak diragukan.


JUMAT BIASA VII A/2
28 Februari 2014

Yak 5,9-12
Kutipan Surat Yakobus hari ini adalah sisi keping yang lain dari bacaan kemarin. Kemarin tampak penulis ‘mengutuk’ orang-orang kaya lalim yang menyesatkan, hari ini si penulis memohon mereka yang bukan penyesat lalim itu supaya tak saling menyalahkan, meneladan para nabi: mbok sabar dalam penderitaan…

Mrk 10,1-12
Injil hari ini bertutur mengenai jebakan orang Farisi soal hukum perkawinan: boleh cerai gak? Mereka menyodorkan fakta bahwa Musa pun mengatur soal perceraian itu, tetapi Yesus menunjukkan bahwa di balik aturan itu, ada kebebalan, kekerasan hati yang mau memaksakan diri untuk berontak terhadap aturan hukum yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s