Hai Penista

Ilusi dan kehancuran cinta, mulai dari kehancuran negara, kota, bangsa sampai orang per orang, barangkali berawal dari minimnya pemeliharaan kesehatan dua hukum yang disodorkan bacaan hari ini. Kenapa ya? Mungkin justru karena yang dipakai adalah kata ‘cinta’ itu sendiri; dan orang tahu, dengan kata itu orang bisa memaksudkan apa saja yang dipikirnya atau dianggapnya baik. 

Saya ikut tetangga jauh yang mengusulkan kata ‘cinta’ diganti untuk sementara dengan kata ‘patuh’ atau ‘taat’, misalnya. Mencintai Allah dengan segenap hati, budi, kekuatan, dan seluruh jiwa tentu tidak berarti mencintai-Nya seturut gerakan spontan dalam hati (yang kerap kali bisa jadi didominasi oleh perasaan belaka). Ini bukan cinta. Boro-boro Allah, orang biasa aja belum tentu memercayainya. Maka, barangkali untuk memudahkan pengertiannya, ganti saja kata obralan itu dengan ‘patuh’ atau ‘taat’ tadi. Segalanya jadi jelas: “Taatilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu!” 

Lha trus hukum cintailah sesama itu gimana? Ya sama, berlaku hukum moral golden rule: Taatilah sesama seperti dirimu sendiri. Kalau kamu gak mau dibohongi ya jangan membohongi, tetapi ini bukan dalam pengertian balas membalas atau karma seakan-akan kalau aku gak membohongi njuk orang lain gak akan membohongi aku dan kalau aku mencuri lantas akan tiba saatnya aku kecurian.

Ini sederhana saja kok. Kalau Anda tak ingin kecurian, buatlah aturan yang berlaku universal, yang memberi jaminan logis bahwa Anda takkan kecurian. Nah, logisnya berarti aturan itu berbunyi: jangan mencuri. Itu bisa berlaku untuk semua, jelas lebih universal daripada perintah ‘wajib mencuri’. Kenapa? Kalau ada satu orang saja yang gak mau kecurian, sifat keberlakuan untuk umum dari perintah ‘boleh mencuri’ tadi secara teoretis langsung buyar. Artinya, aturan itu diskriminatif terhadap orang yang tak mau kecurian. Sudah capek-capek merawat suami atau istri kok ya bisa-bisanya dicolong orang!

Sebaliknya, perintah ‘jangan mencuri’ lebih universal sifatnya karena, pun kalau ada orang yang tak keberatan ia kecurian, secara teoretis aturan itu tak mendiskriminasi mereka yang oke-oke aja kecurian, sekaligus melindungi pihak yang gak mau kecurian. Memang, seturut insight bacaan hari ini, golden rule ini tetap diletakkan dalam konteks ketaatan kepada Allah tadi. Tak ada cinta kepada Allah dan sesama yang semata-mata bersumber dari inisiatif manusia sendiri. Everything is obedience to the Law of Truth. Maka, kalau ada orang yang membawa-bawa nama Allah atau atas nama cinta kepada Allah untuk pencurian, pembunuhan, korupsi, bagaimanapun santunnya, apapun agamanya: dialah penista. Dia adalah kita, yang tak pernah benar-benar bersih.

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk semakin memahami hukum kebenaran-Mu. Semoga damai-Mu tetap boleh bersemi bahkan di tempat-tempat konflik yang amat mengerikan. Amin.


Kamis Biasa IX A/1
8 Juni 2017

Tb 6,10-11;7,1.6.8-13;8,1.5-9a
Mrk 12,28b-34

Kamis Biasa IX C/2 2016: Tak Ada Tuhan dalam Liturgi
Kamis Biasa IX B/1 2015: Untuk Apa Ritual?

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s