God of the Living

Aneka penelitian dan teknologi canggih sudah menguak begitu banyak hal yang menjelaskan bagaimana semesta ini berjalan, bahkan sampai melahirkan teori saintifik Big Bang yang masih bisa diperdebatkan apakah itu momen initial singularity alias awal terciptanya semesta yang plural ini atau bukan. Orang-orang Saduki yang melontarkan pertanyaan soal status perkawinan orang kelak setelah kebangkitan, tentu tak mengerti teori Bing Bag eh… Big Bang itu, tetapi pada prinsipnya kategori pemikiran yang dipakainya sama: ruang-waktu. Mereka tak sanggup mengimajinasikan bagaimana hidup di dunia sono itu, yang terlepas dari kategori ruang-waktu.

Belum pernah saya jumpai orang yang kategori berpikirnya mengabaikan ruang-waktu itu dan hidupnya connect dengan hidup nyatanya di dunia ini. Tentu ada sih orang yang kategori berpikirnya melampaui ruang-waktu, tetapi ini hampir bisa dipastikan adalah orang-orang yang thung, sedemikian merdekanya sehingga tak connect lagi dengan kehidupan publik, entah orang, apotek, trotoar, mal, kos, kampus, kota, negara, dan sebagainya. Orang macam ini  hidup dalam dunianya sendiri tanpa dimensi ruang-waktu; merasa diri bebas tetapi sebetulnya malah terikat. Orang Saduki tak bisa mengakui adanya hidup setelah “life after death”. Loh, kok jadi pleonasme ya: hidup setelah life after death. Gak juga sih kalau mau sedikit berpikir dan mempertimbangkan kosmologi orang Yahudi dulu.

Semoga masih ingat. Orang Yahudi dulu punya keyakinan bahwa orang mati itu masuk syeol. Jadi, masa depan setelah kematian ya syeol itu, titik. Ajaran tentang kebangkitan itu revolusioner apalagi bagi kelompok Saduki karena bisa mengancam posisi mereka. Kok bisa? Ajaran tentang kebangkitan itu menyodorkan dunia baru yang akan dibangun Allah sendiri setelah kematian. Nah, kalau orang percaya pada dunia baru Allah ini, ia gak akan ngotot-ngotot amat dengan aneka capaian dunia ini, sesuatu yang dipentingkan oleh orang Saduki [Hidup ini cuma sekali: apa posisimu sekarang ini, ya itulah kamu!]. Sangat mungkin orang yang seperti itu juga tidak sangat memberi respek terhadap posisi-posisi duniawi (meskipun respek kepada orangnya). Contohlah: yang paling menggebu-gebu posisi gubernur adalah justru mereka yang punya kehausan untuk kuasa dunia, bukan yang niatnya jadi pelayan publik. Nah, yang menggebu-gebu itu akan was-was dengan posisinya; yang tidak ambisius ya ora pathèkên, dipenjara pun ora problem, ya nangis-nangis dikitlah.

Jawaban yang diberikan kepada orang Saduki sebetulnya ya sulit dibayangkan: di dunia setelah kebangkitan itu orang hidup seperti malaikat, jadi gak usah pikir status perkawinan di dunia ini. Status atau gelar itu cuma bikin-bikinan dunia sini saja. Njuk gimana dong?

Tentu tak perlu alergi terhadap kategori ruang-waktu sampai-sampai kepikiran seperti Sara yang hendak menghabisi hidupnya karena terlalu banyak nista didengarnya. Ikuti saja kategori ruang-waktu itu karena justru itulah yang memungkinkan orang kontak dengan realitas hidupnya. Yang penting orang terbuka pada dunia kebangkitan yang revolusioner itu (yang mengacu pada dunia ketiga, yang membuat orang move on), dalam doa yang jujur, yang berimplikasi pada ruang-waktu. Pada momen itulah, momen harapan-iman-cinta, Tuhan menjadi Allah orang hidup, bukan Allah orang mati.

Ya Allah, mohon tambahan kekuatan-Mu supaya harapan-iman-cinta kami semakin besar. Amin.


Hari Rabu Biasa IX A/1
7 Juni 2017

Tb 3,1-11a.16-17a
Mrk 12,18-27

Rabu Biasa IX C/2 Tahun 2016: Mau Dikebiri Eaaaa…
Rabu Biasa IX B/1 Tahun 2015: Mari Rekayasa Chemistry *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s