Pasti Orderan

Kalau jelas-jelas wasit mengambil keputusan yang keliru, penonton boleh jadi berkomentar,”Wasitnya pasti dibayar!” Komentar ini tak perlu diterima secara negatif sebagai kecurigaan penonton terhadap kecurangan yang sistematis, masif, dan terstruktur. Kenapa? Ya karena wasit memang dibayar. Begitu pula kalau seorang pimpinan lembaga tinggi negara mengomentari kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi,”Pasti ada orderan!” Lha ya jelas ada toh ya, namanya Komisi Pemberantasan Korupsi kok, tentu ordernya adalah memberantas korupsi! Dari mana datangnya orderan itu? Dari hati nurani mereka yang duduk di komisi itu tentunya.

Tahu sama tahulah, kalau hati nurani bermain, lawan pertamanya jelas adalah aneka kepentingan yang terhubung erat dengan 600 juta atau kelipatannya itu. Gak ada orang yang harus melawan Allah dan juga tak ada orang yang mesti melawan sejarah. Akan tetapi, dalam setiap sejarah hidup orang, rupanya Allah dan sejarah itu memang hadir meskipun tak bisa dicampuradukkan. Ia mesti memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah dan kepada sejarah apa yang menjadi hak sejarah. Celakanya, uang 600 juta dan kawan-kawan itu bukan milik Allah; itu temuan sejarah yang adalah hasil utak-atik pikiran orang untuk merekayasa sejarah. Maka sudah selayaknya kalau urusan sejarah itu diselesaikan dengan peranti dan alat ukur sejarah, bukan malah bawa-bawa nama Allah segala.

Miris melihat framing yang dibuat orang-orang berposisi tinggi di negeri ini yang mencoba memakai isu agama padahal jelas korupsi tak mengenal agama. Tapi bagaimana ya, dasarnya agama itu juga buatan orang, maka ya bisa dipermainkan sesuka orang yang mempermainkannya. Bayangkan, orang bekerja profesional memberantas korupsi dan ndelalahnya ada pemuka-pemuka agama terjerat rangkaian kasus itu. Kok bisa memberi insinuasi bahwa upaya itu dilakukan untuk menggembosi pemimpin-pemimpin agama? Siapa sih yang mau menggembosi pemimpin agama? Ada juga orang menggembosi dirinya sendiri karena melawan hati nurani tadi.

Bacaan hari ini menegaskan pembedaan ranah hati nurani dan ranah sejarah tadi. Kebodohan manusia membuat dua ranah itu tercampur aduk dan kebijaksanaanlah yang menghubungkan dua ranah yang bisa dibedakan itu. Semoga bangsa kita ini semakin hari semakin bisa belajar untuk setia kepada dua ranah itu dan tak terus menerus bermain dalam sejarahnya. Kapan sih orang bermain dalam sejarahnya itu? Ketika ia menerima order dari ranah sejarah yang dilepaskan dari hati nurani bangsa. Horotoyoh… mana ada bangsa berhati nurani? Lha ya Pancasila itu kan hati nurani bangsa toh!

Ya Tuhan, mohon kejujuran dan keterbukaan pada hati nurani-Mu. Amin.


Selasa Biasa IX A/1
6 Juni 2017

Tb 2,9-14
Mrk 12,13-17

Selasa Biasa IX B/1 Tahun 2015: Duit buat Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s