Spirit Gerakan, Eaaa…

Republik ini tidak pernah didirikan oleh para pelayan. Republik ini dibangun oleh para penggerak. Orang yang datang menggerakkan warganya untuk membereskan masalah. Itu spirit gerakan. Masih ingat siapa yang melontarkan ungkapan seperti itu? Eaaaa…. betul (loh siapa?), super sekali! Kata-katanya yang super loh ya, bukan orangnya. Maka, ya sudah, ambil saja kata-kata supernya, tak usah ikuti orangnya!

Akan tetapi, bolehlah saya memberi catatan terhadap kata-kata super itu karena kalau tidak, orang bisa menelan mentah-mentah dan bikin perbandingan yang tidak fair entah mengenai orang atau cara kerjanya. Cuma dua catatan kok. Pertama, sudut pandang penutur itu berpengaruh. Bisa jadi yang dimaksud sama, tapi karena sudut pandangnya berbeda, penilaiannya juga bisa berbeda. Misalnya, kata pelayan bisa berarti negatif untuk profesor, tetapi bisa berarti positif untuk orang yang sepenuh hati ingin memajukan dunia pendidikan. Maksud saya, mungkin saja loh ada orang yang alergi terhadap paradigma pelayan karena dia gak mau dituntut kerja… yang penting spiritnya gerakan, eaaaa….

Kedua, barangkali perlu diperhatikan suatu genetic fallacy. Memang bolehlah menyebut republik ini tidak pernah didirikan oleh para pelayan, tetapi sekarang ini kan bukan masa pendirian republik, ini adalah masa penataan republik. Atau penuturnya itu memang sedang berpikir dalam kerangka untuk mendirikan suatu republik baru? Waaaaaa….. ngeri dong! Sekarang adalah waktu menata republik dan betul, spirit gerakan diperlukan, tetapi spirit gerakan itu tak perlu mengeksklusi pelayanan. Menata kota atau negara kan bukan cuma soal membuat event olimpiade atau program immersion untuk jangka waktu seminggu sebulan! Dalam rangka itulah spirit gerakan perlu diterjemahkan dengan pelayanan aparat pemerintahan. Tanpa roh pelayanan publik itu, spirit gerakan akhirnya cuma jadi slogan bagi aparat bermental penguasa.

Pemantik spirit gerakan bukan slogan, melainkan karakter. Ini sudah jelas dengan seribu lilin dan ribuan karangan bunga itu: suatu gerakan. Bukan karena slogan pelayanan, melainkan karena integritas pelayannya yang juga teruji bahkan dengan konsekuensi penjara sekalipun sebagaimana diceritakan dalam bacaan pertama hari ini. Tobit punya keberpihakan pada orang yang terpinggirkan dan tak hendak ia menikmati jamuan makan sementara ada orang yang dirampas hak hidupnya. Ini tak mungkin dimiliki oleh orang bermental penguasa. Dengan mental penguasa, yang terjadi malah orang yang semestinya jadi pelayan malah membunuh para stakeholder. Ya gak harus sampai merenggut nyawa sih, bisa juga dengan mengkrikiti duit rakyat atau abai dengan kepentingan publik.

We are not mute dogs, we are no silent spectators, we are not mercenaries fleeing the wolf, but shepherds who are vigilant and vigilant on the flock of God. We preach the designs of God to the great and the small, the rich and the poor. Let us announce it to all ages and ages as long as the Lord will give us strength, in a timely and importunate manner. Konon seperti itulah yang ditulis Bonifasius yang diperingati hari ini: nyinyir menyuarakan kebenaran, bukan demi kekuasaan, melainkan pelayanan bagi Allah.

Ya Tuhan, semoga bukan mental penguasa yang meraja di negeri ini. Amin.


SENIN BIASA IX
Peringatan Wajib S. Bonifasius
5 Juni 2017

Tb 1,1a.2a.3;2,1b-8
Mrk 12,1-12

Senin Biasa IX C/2 Tahun 2016: Surat Tertutup untuk Ahoy
Senin Biasa IX B/1 Tahun 2015: Maaf, Hukum Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s