Kursi Kosong?

Mungkin ada baiknya mengingat kembali kata kerja βλέπω dan ὁράω (blepo dan horao), yang sama-sama berarti melihat tetapi berbeda kategori. Yang pertama melihat dengan mata material, yang kedua melihat dengan mata hati dan budi. Melihat dengan mata material itu jelas maksudnya. Melihat dengan mata batin dan budi itu rada kurang jelas. Padahal dalam teks hari ini disodorkan cerita bagaimana murid-murid bersukacita karena melihat Yesus yang menunjukkan tangan dan lambung kepada mereka. Lha tangan dan lambung itu kan bisa dilihat dengan mata material, mosok iya mesti memejamkan mata untuk mengkontemplasikan tangan dan lambung? Anehnya, dasar kata kerja yang dipakai dalam teks itu memang adalah ὁράω. Gimana dong?

Dalam salah satu adegan film Ignacio de Loyola ada hal yang menarik bahwa Íñigo mengajak Anna, seorang PSK, untuk melihat ke sebuah kursi kosong di depan mereka dan Íñigo mengajaknya untuk mengimajinasikan Yesus duduk di situ. Kursi kosong ya tetaplah kursi kosong, gak perlu ditambah lagi kalau ujung-ujungnya cuma untuk ajang korupsi #loh…. Tentu dalam teknik film bisa dihadirkan di situ sosok Yesus bahkan secara samar-samar ketika Anna mulai melihat sesuatu di kursi kosong itu. Tetapi justru itulah yang menarik. Kursi kosong tetap ditampilkan sebagai kursi kosong. Memang secara material begitulah adanya. Kursi itu kosong.

Jadi, penampakan Yesus itu tidak nyata dong? Imajinasi doang!
Tunggu dulu.
Anna ini melihat sosok Yesus yang tersenyum, bahkan mengatakan sesuatu kepadanya: memahami dan menerimanya. Tidak hanya imajinasi romantis begitu, Anna juga terdorong untuk melakukan perbaikan hidup. Ia sadar akan apa yang dijalaninya. Ia terkesan bahwa untuk pertama kalinya ada orang yang memperlakukan dia sebagai pribadi, bukan asal bayar lalu ngeloyor. Tekadnya bulat untuk memperbaiki hidupnya karena ia merasa dicintai.

Apakah adegan itu memang terjadi dalam hidup Íñigo? Saya sangat meragukan. Ini film toh ya, mesti ada pesan tertentu bahkan lewat adegan yang mungkin ganjil. Sulit saya terima bahwa seorang PSK dalam hitungan menit bisa melakukan kontemplasi mengingat saya dulu berjibaku dengan air mata untuk belajar berkontemplasi dan mengingat bagaimana orang sekarang juga susah berkonsentrasi dalam doa (ngaku aja deh, hahaha).

Kursi kosong tetap kursi kosong. Sosok Yesus juga ‘cuma’ imajinasi di kepala Anna. Akan tetapi, rasa dimengerti, dicintai, dan dorongan untuk melakukan renovatio vitae (pembaharuan hidup) itu susah dikatakan cuma ada di imajinasi karena Anna memang dilingkupi pengalaman eksistensial: ia berubah, ia memahami dirinya lebih baik lagi dan mengerti orientasi hidupnya. Seperti itulah melihat dengan mata batin dan budi (plus kehendak). Bahwa kursi kosong tetap kosong tidak lagi relevan untuk diperdebatkan karena kerja Allah menyentuh pribadi manusia pun bisa terjadi, bahkan mungkin hanya bisa terjadi melalui daya imajinasi kreatif manusia. Apalah manusia tanpa imajinasi?

Ingatan, rasa, budi, dan kehendak manusia yang imajinatif jadi sasaran empuk Roh yang membawa pesan Tuhan. Apa indikasinya seseorang sudah dimakan Roh? Imajinasinya menuntun pribadi itu untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi; sebagaimana seorang Íñigo mengubah orientasi ksatria mengabdi Putri Catalina ke pengabdian kepada Putri Surgawi. Itu bukan cuma imajinasi.

Tuhan, mohon terang Roh-Mu supaya kami melihat. Amin.


HARI RAYA PENTAKOSTA A/1
4 Juni 2017

Kis 2,1-11
1Kor 12,3b-7.12-13
Yoh 20,19-23

Posting Tahun 2014: Pentakosta Sudah Dimulai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s