Real Juve: Jerman

Saya baru ngeh bahwa ada pertapa yang rupanya kepo juga dengan hidup yang serba aneh ini. Untungnya, karena pertapa, kepo itu tak disodorkannya pada sesama pertapa, melainkan pada Tuhan: kenapa ada yang mati muda, kenapa ada yang sudah jenggotan belum mati juga, kenapa orang tamak itu malah yang sudah kaya dan yang miskin malah hidup bersahaja, kenapa orang baik matinya bisa jelek? Suara apa yang didengar pertapa itu?

Pertapa itu mendengar suara: Ada deeeeh.

Mungkin memang begitulah baiknya. Bisa jadi orang membuang-buang waktu hanya untuk berwacana mengenai urusan atau nasib orang lain, padahal ya gada relevansinya dengan hidup orang yang buang-buang waktu tadi. Si guru hari ini mengundang murid-muridnya untuk fokus: just follow me…. at your own pace. Lha repotnya gak semua orang ngerti pace-nya sendiri, lalu main hakim sendiri, lalu muncul persekusi. Ini yang bikin runyam bangsa dan negara!

Kemarin saya dapat klip video tentang alasan manajer tim basket Žalgiris mengizinkan Augusto Lima, pemain kelahiran Brasil, untuk pulang ke rumah saat tim menghadapi pertandingan semi final. Entah benar atau tidak klip video itu, pesannya cocok untuk mengerti dunia teks yang disodorkan sang guru hari ini, selain mengundang orang untuk tahu mana yang sesungguhnya penting dalam hidup ini.

Bisa jadi ada kesan anarki seolah-olah setiap orang bisa semaunya menentukan apa yang penting dan apa yang gak penting. Akan tetapi, jelas bahwa seorang manajer punya kewenangan dengan segala konsekuensinya, termasuk jika timnya gagal melenggang ke final, dan itu tentu sudah masuk dalam pertimbangannya. Termasuk kalau akhirnya dia dipecat dari jabatannya, bahkan kalau toh mesti dipenjara karenanya, hahaha…

Yang penting, orang mengerti personal vocationnya sendiri karena itulah yang menyelamatkannya, membahagiakannya, menenangkannya: bukan umur panjang atau pendek, bukan sehat atau sakit, bukan jadi kaya atau miskin, bukan jomblo atau poligami, bukan gagal atau berhasil, bukan untung atau rugi, bukan famous atau notorious, dan seterusnya.

Ini gak penting. Semua orang di dunia tahu saya berdarah Jerman, hahaha… Jadi wajarlah kalau Bayern Muenchen kalah saya kecewa (bukan karena kalahnya sih wong namanya zero-sum game, melainkan karena cara kalahnya itu). Tetapi itu tak penting karena pada Real dan Juve ada Jermannya, eaaaa… Njuk ntar malam dukung apa dong?

Ada deeeeh…

Ya Tuhan, mohon ketenangan hati supaya kami mengerti apa yang sungguh penting bagiku demi kemuliaan-Mu. Amin.


SABTU PASKA VII
3 Juni 2017

Kis 28,16-20.30-31
Yoh 21,20-25

Posting Tahun 2015: Keterbukaan Kreatif, Keyakinan Naif
Posting Tahun 2014: Mind your own business

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s