Bumi Datar Ya Ampun

Juga umat beragama sekarang ini memiliki kekecewaan tertentu terhadap agamanya sendiri. Yang satu merasa malu karena kelompok yang seagama dengannya menista agamanya sendiri dengan perilaku-perilaku naif, sementara yang lainnya menganggap kelompok seagamanya kurang puritan atau murni. Sebagian dapat mengelola problem ini, sebagian tidak mau atau tidak bisa mengelolanya sehingga menganggap agama itu bullshit dan berbalik membenci agama. Sebagian lainnya bertengkar karena saling mengklaim diri benar entah dengan label konservatif atau progresif dan lebih mengerikan lagi kalau unsur radikalisme cawe-cawe.  

Dalam situasi seperti itu, kekecewaan, kemarahan, frustrasi, ketakutan, kejengkelan, kemampuan orang untuk melihat persoalan cenderung merosot. Begitulah yang digambarkan dalam bacaan hari ini. Dua murid yang sedang galau berat hendak pulang kampung Emaus dan di tengah jalan mereka tak mampu mengenali Tuhan yang hadir dalam perjalanan saat mereka bertikai membahas kejadian yang baru menimpa guru mereka. Ini sebenarnya persoalan yang hendak dijawab penulis Injil Lukas: bagaimana orang yang tak pernah hidup bersama dengan Yesus itu, seperti orang zaman kini tentunya, bisa percaya pada kebangkitan.

Ada dua kata kerja yang barangkali bisa jadi bantuan untuk menjawab pertanyaan itu.  Kata tetangga saya, dalam bahasa Yunani ada kata βλέπω (blepo) dan ὁράω (horao) yang sama-sama berarti ‘melihat’ tetapi berbeda matranya. Pada satu ayat sebelum bacaan yang dikutip hari ini dipakai kata βλέπω, yaitu melihat atau mempersepsi objek yang bersifat material: saat Petrus melihat kain kafan dalam makam Yesus. Kain kafan adalah objeknya. Sedangkan di akhir kutipan hari ini dipakai kata ὁράω yang lebih berciri metaforis, yaitu melihat dengan budi, dengan persepsi batiniah. Objeknya mengatasi benda material. Kata kerja ini dipakai untuk menggambarkan keyakinan murid bahwa Tuhan telah menampakkan diri kepada mereka.

Dari gerak teks dapat dimengerti bahwa dua murid itu gagal bergerak dari βλέπω ke ὁράω. Kenapa? Pertama, karena mereka memisahkan diri dari komunitas ‘galau’ yang terus berproses mencari pemahaman peristiwa Yesus. Mereka pulang kampung. Kedua, mereka bahkan tidak menaruh keraguan sedikit pun mengenai paradigma mereka tentang Mesias: seharusnya Yesus itu tidak mati, tidak kalah, bisa jadi pemimpin DKI #eh… Ketiga, mereka tidak membuat verifikasi pengalaman iman orang lain yang telah ‘melihat’ (ὁράω) pribadi yang bangkit. Mereka menganggap remeh kesaksian iman orang lain.

Pada saat itulah Yesus menegur begitu keras,”Hai orang dodol! Betapa lamban hatimu ya!” Lamban hati dalam Kitab Suci ya berarti berpikir ala kaum bumi datar. Tentu tak masuk akallah peristiwa Yesus itu dalam pikiran bumi datar. Yesus lalu membuka mata mereka dengan perspektif yang sudah dituliskan dalam Kitab Suci. 

Di sini menjadi jelas bahwa membaca Kitab Suci saja ternyata tak cukup. Orang memerlukan bantuan pihak lain untuk menyambungkan isi Kitab Suci itu dengan peristiwa hidup manusia. Bantuan ini, bisa berupa homili atau khotbah, yang memungkinkan hati orang terbakar, bergelora, bergetar karena ia menemukan makna kebenaran dari peristiwa hidup yang tampak absurd jika dilihat dengan mata material belaka.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin mampu melihat peristiwa hidup dengan perspektif iman. Amin.


HARI MINGGU PASKA III A/1
30 April 2017

Kis 2,14.22-33
1Ptr 1,17-21
Luk 24,13-35 

Minggu Paska III C/2 2016: Komitmen Nol, Cinta Zero 
Minggu Paska III B/1 2015: Kristus Butuh Toilet Jugakah? 
Minggu Paska III A/2 2014: Happiness, Inventing The Meaning *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s