Ngapain Percaya Tuhan?

Siapa sih yang akan lebih memilih calon gubernur yang berfokus pada bagi-bagi duit puluhan hingga ratusan juta tiap RT daripada penarikan dan pengelolaan pajak daerah yang transparan dan akuntabel? Rakyat bodohlah kiranya, karena mereka hanya bisa berpikir dengan sumbu pendek. Sebagian besar warga ibukota terbebas dari kebodohan jenis itu (terlihat dari tingkat kepuasan mereka terhadap kinerja gubernur dan wakilnya yang menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas itu), tetapi tampaknya belum terbebaskan dari kebodohan lainnya. Kok isa? Karena sumbu pendeknya tetap, cuma duitnya diganti agama. Dengan kata lain, masih banyak orang bersumbu pendek dalam menghayati hidup keagamaannya. Kiranya mengerikan bahwa dalam masyarakat yang jelas majemuk, pengelolaan daerah dipercayakan pertama-tama kepada orang dengan ikatan primordial agama, dan bukannya track record yang baik mengenai karakter pribadi maupun kinerjanya.

Tentu tak perlu heran dengan pola pikir sumbu pendek macam begini seakan-akan itu muncul sebagai fenomena baru. Juga digambarkan dalam bacaan hari ini bagaimana Yesus menyentil banyak orang yang mencari dia dengan pola pikir sumbu pendek: pokoknya dapat makanan gratis! Sentilan yang sama tetap berlaku juga untuk orang zaman sekarang ini yang mengklaim percaya kepada Allah, beragama, hidup saleh, dan sejenisnya. Atas dasar apa orang percaya kepada Allah? Kenapa orang percaya kepada Allah? Untuk apa orang percaya kepada Allah?

Saya tak begitu ambil pusing sistem kepercayaan orang, tetapi saya peduli bagaimana orang belajar dari sistem kepercayaan, juga sistem kepercayaan orang lain. Saya belajar dari sistem keyakinan Kristen (yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan) antara lain satu hal ini: percaya kepada Allah bukan karena aneka kemudahan mendapatkan pangan, sandang, papan, kesuksesan, posisi, jabatan, dan sebagainya. Andaikan kepercayaan kepada Allah hanya didasarkan pada makanan yang diterima, barangkali orang terus menunggu makanan apa lagi yang bakal diberikan-Nya. Saya percaya kepada Allah bukan karena kegembiraan, kesenangan, kepuasan yang diberikan-Nya kepada saya, melainkan karena pribadi-Nya sendiri yang diberikan kepada saya. 

Kegembiraan, kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, itu semua penting, akan tetapi yang esensial adalah perjumpaan dengan-Nya, dengan keindahan dan cinta-Nya. Terlalu banyak salah paham terjadi karena orang beragama tak menangkap hal ini: stuck pada pemberian-Nya, tidak beranjak pada Dia yang memberikan karunia itu. Orang stress mengembangkan karunia karena ia tak membangun perjumpaan dengan Si Pemberi. Orang bertengkar dan saling menyalahkan pihak lain, sistem kepercayaan lain, karena tak berorientasi pada bagaimana membangun relasi autentik dengan Allah. Orang ribut karena kesempurnaan ritual dianggap utama lebih daripada pengalaman autentik akan Allah.

Andaikan saja semakin banyak orang yang mengalami kebahagiaan tanpa syarat, agama takkan lagi jadi faktor sumber keterpecahan atau pemisahan, tetapi jadi kekayaan yang pantas disyukuri semua orang karena mendekatkan pemeluknya pada Si Pemberi Kehidupan. Andaikan saja semakin banyak orang menghidupi apa yang esensial dari agama, kiranya aneka sumbu pendek itu tak dipelihara. Orang bekerja bukan untuk memperebutkan kuasa, melainkan untuk mengorientasikan kuasanya bagi kesejahteraan bersama.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu menangkap cinta-Mu di balik segala ciptaan. Amin.


SENIN PASKA III
Peringatan S. Yusuf Pekerja
Hari Buruh International
1 Mei 2017

Kis 6,8-15
Yoh 6,22-29

Posting 2016: Plesetan Iman
Posting 2015: Perbuatan Tanpa Iman Is Dead

Posting 2014: Spirit’s Work, Wider and Deeper

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s