Bakar Bunga

Pada May Day kemarin saya cuma menyaksikan aksi corat-coret fasilitas umum di Bandung, tetapi katanya di ibu kota ada bakar kembang segala. Entah aksi corat-coret kata-kata kotor dan kasar atau aksi bakar kembang yang disisipkan pada aksi buruh, saya kira tidak cocok dengan maksud May Day dulunya dirayakan. Akan tetapi, ketidakcocokan ini malah bisa jadi contoh gampang untuk mengerti bagaimana yang substansial itu lebih nendang dalam jangka panjang.

Saya mencoba meneliti batin apakah saya sedemikian belum move on dengan kekalahan tokoh saya di pilgub kemarin, tetapi tak saya temukan jejak kepahitan itu. Sebaliknya, saya malah bersyukur bahwa gubernur dan wakilnya sekarang ini kalah sehingga lebih mudah bagi saya menjelaskan bagaimana kinerja Roh dalam batin orang tak bisa direnggut oleh aneka teror yang mencederai dimensi fisik kemanusiaan. Dengan ini pula lebih mudah dijelaskan apa artinya kebangkitan (Yesus).

Tak pernah masuk dalam benak saya bahwa karangan bunga didedikasikan kepada sosok Ahok-Djarot. Akan tetapi, dari mana datangnya ribuan karangan bunga ini? Kalau itu adalah rekayasa Ahok-Djarot, akal saya benar-benar menguap entah ke mana: ngapain jal membuang 3,5 milyar rupiah hanya untuk menutupi rasa malu karena kalah? Ngapain juga menggelontorkan uang segitu banyaknya untuk menghargai yang namanya kerja keras, integritas, concern pada keadilan? Saya ingat kata-kata yang dilekatkan pada mulut Yesus: orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi aku tidak akan selalu ada pada kamu.

Artinya, sepanjang masa orang akan terus bergumul dengan aneka problem kemiskinan, keadilan, ekologi, konflik, dan sebagainya justru karena orang nyatanya tidak mampu untuk hidup selalu bersama Tuhan. Kesadaran akan hidup di hadirat Allah ini kerap terkacaukan oleh aneka nafsu, hasrat, gelojoh manusia yang terfokus pada jaminan fisik. Tak mengherankan, orang-orang Yahudi menantang Yesus untuk menunjukkan kelebihannya daripada Musa yang dulu menurunkan roti dari surga: kok berani-beraninya menyebut diri lebih jos dari nabi-nabi yang pernah hidup!

Mereka ini lupa, yang memberi roti bukanlah Musa, melainkan Allah sendiri. Allah tidak setiap kali menjatuhkan roti dari surga. Akan tetapi, lebih daripada roti yang cuma bisa dimakan dengan mulut dan esok harinya ikut terbuang ke jamban, Dia memberikan sosok pribadi yang bisa ‘dimakan’: integritas, kebesaran jiwa, kerelaan berkorban, ketulusan, kejujuran, dan kualitas lain yang sungguh menyentuh batin. Apa yang menyentuh batin itu tak lekang waktu alias tahan lama, mengatasi waktu.

Tak saya duga bahwa di tengah situasi panasnya politik ibu kota sebetulnya ada cuatan atau cuitan batin nan murni yang menghargai kejujuran, transparansi, akuntabilitas, integritas, keberanian, keikhlasan, ketulusan lebih daripada sekadar penguasaan aset atau show of force. Tak ada yang bisa mengklaim hadirnya rangkaian bunga itu sebagai kekuatan dirinya (sendiri). Pun rangkaian bunga ini juga bukan bukti bahwa Ahok-Djarot is the best forever and ever. Akan tetapi, ini adalah suara keras hati nurani bahwa kebaikan tak pernah sungguh-sungguh dihabisi oleh teror kejahatan [to tell the truth, berlaku sebaliknya juga sih, tetapi saya hendak memihak kebaikan].

Ya Allah, semoga kami umat-Mu semakin tertambat pada-Mu lewat jalan setapak kami masing-masing. Amin.


SELASA PASKA III
PW S. Atanasius
2 Mei 2017

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting 2016: Roti Surga, Selai Neraka
Posting 2015: Tanda Tangan Allah

Posting 2014: Weak But Strong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s