In Love with Mother Earth

Dalam kunjungan ke sebuah komunitas orang muda di Kota Kembang kali lalu, saya peroleh kesaksian orang muda Muslim yang bisa membantu pemahaman bacaan yang disodorkan Gereja Katolik hari ini: Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu mengenal juga Bapa-Ku.

Teks seperti itu oleh umat Kristen sendiri langsung disangkutpautkan atau dilekatkan pada sosok Yesus karena Yesus memang diyakini sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Apakah itu keliru? Sama sekali tidak, tetapi kalau hanya begitu, teks itu jadi beku, eksklusif dan malah tidak inspiratif karena orang cenderung mengobjekkan kenyataan ilahi, memandang kenyataan itu dengan utak-atik-otak belaka. Komunitas orang muda yang saya kunjungi itu membantu saya untuk membongkar teks itu jadi lebih inklusif dan maknanya jadi lebih dalam daripada sekadar mengakui bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup.

Tak sedikit dari anggota komunitas itu yang berjilbab dan mereka adalah orang-orang terpelajar karena semuanya adalah mahasiswa yang sudah di tingkat akhir ataupun fresh graduate dari perguruan tinggi ternama. Apa yang mereka lakukan di situ? Hidup biasa dengan cara luar biasa. Mereka makan dari hasil bumi yang mereka kelola sendiri dan membangun komitmen yang mereka hidupi untuk merawat bumi ini secara ekologis. Ada yang bernazar hanya makan daging seminggu sekali saja. Ada yang bertekad meminimalkan pemakaian plastik. Yang membuat decak kagum saya adalah seorang muda yang alih-alih melanjutkan bisnisnya (dengan latarbelakang kuliahnya), memutuskan untuk menjadi petani.

Kekaguman saya tidak muncul dari anggapan bahwa petani itu rendahan sehingga kalau orang memilih yang rendah padahal ia bisa mencapai yang tinggi itu adalah tindakan kerendahan hati. Sama sekali tidak! Semua profesi sama mulianya sejauh menjadi jalan, kebenaran dan hidup bagi yang menggumulinya. Orang muda ini menemukan peran yang membuatnya hidup dan bahagia di situ. Tentu, ini bukan penilaian akhir karena belum teruji dalam keseluruhan hidupnya. Akan tetapi, sekurang-kurangnya di situ orang menemukan peran dan identitas dirinya. Bahwa komitmennya belum teruji waktu, itu soal lain lagi.

Salah seorang putri berjilbab juga menuturkan pergumulan dalam menjalani komitmennya. Selama ia tinggal di lingkup komunitas ekologis itu, ia tak punya kesulitan berarti karena orang-orang di situ sudah sadar lingkungan. Pergulatan keras terjadi ketika ia kembali ke kampus atau lingkungan masyarakat: ia menjadi seperti Ahok #eh… Nemo yang melawan arus. Melawan arus demi kesuksesan sendiri sih masih wajarlah; namanya orang mau sukses ya mesti berani berjibaku. Akan tetapi, melawan arusnya ini bukan semata demi kepentingan egocentric, melainkan ecosentric. Ini yang berat.

Bagaimana yang berat itu jadi ringan? Saat orang menerimanya sebagai lifestyle, sebagai gaya hidup panggilannya. Pada momen itu, ia sungguh mencintai Allah melalui komitmennya merawat bumi tetapi juga belajar dari bumi. Bisa jadi ia jatuh cinta pada ibu bumi ini. Allah bukan lagi objek pikiran yang memberi norma ini itu, melainkan jalan yang mengantar orang pada kebenaran dan hidup sejati, hidup yang berkualitas, yang kiranya membahagiakan.

Ya Allah, mohon rahmat cinta-Mu supaya kami semakin mencintai ibu pertiwi. Amin.


(Rabu Paska III)
PESTA SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS
3 Mei 2017

1Kor 15,1-8
Yoh 14,6-14

Posting 2016: “Pusing” The Limit
Posting 2014: Kenalan Dong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s