Jangan Atut

Apa jadinya jika agama dipisahkan dari politik dalam masyarakat majemuk? Kemungkinannya: bangsa akan hancur karena kekuatan agama tertentu atau karena kekuatan politik. Dalam masyarakat plural, semestinya negara menerapkan prinsip subsidiaritas. Artinya, hal-hal yang bisa ditangani agama biarlah ditangani agama sendiri sedangkan dalam hal yang tak bisa ditangani agama, negara harus campur tangan. Tentu saja, problemnya ialah bagaimana menentukan hal mana yang bisa ditangani agama dan hal mana yang tak bisa ditangani agama sendiri sehingga perlu diintervensi negara. Kekeliruan dalam penentuan hal ini akan menempatkan negara dalam kutub seberangnya: mencampuradukkan politik dan agama. Baik memisahkan agama dari politik maupun mencampuradukkannya sama-sama dapat menghancurkan tenun kebangsaan (cieeeeh… tenun).

Di antara pemisahan dan pencampuradukan itu masih ada kualitas yang lebih tepercaya: pembedaan. Orang tak perlu memisahkan agama dari politik tetapi juga tak usahlah mencampuradukkan keduanya, tetapi orang mesti jeli membedakan ini ranah politik atau ranah agama. Bagaimana membedakannya ya? Anda bisa tonton film Romero misalnya, atau bisa juga belajar dari Santa Katarina yang diperingati Gereja Katolik hari ini. Katarina ini seolah memetik pesan penting bacaan hari ini: Jangan takut, ini Aku! Maksudnya, pada momen perjumpaan autentik dengan Tuhan, orang tak perlu takut juga dengan konsekuensi politik sekalipun.

Katarina mengundang setiap orang (bahkan Paus sekalipun!) untuk kembali ke substansi agama sebagai penghubung manusia dengan Allahnya, bukan malah ribut dengan aneka macam tampilan fisik yang potensial akan kericuhan. Dialah yang membawa kembali pimpinan Gereja Katolik, Paus Gregorius XI, dari Avignon ke Roma karena jelas tahta di Avignon adalah tahta yang lekat dengan politik Raja Perancis saat itu. Ranah agama hendak diplekotho [plekotho itu apa ya?] mereka yang punya kuasa politik di Perancis. Katarina mendapat kabar bahwa Gregorius XI ini sempat berubah pikiran untuk kembali ke Avignon dan saat itulah Katarina mendiktekan surat kepada Paus itu. Bunyinya kira-kira begini: Coba ya, demi Kristus yang tersalib itu, mbok ya kamu itu jangan jadi anak yang penakut, tetapi jadilah lelaki dewasa! Buka mulutmu dan telan obat pahit itu supaya berakhir manis! Ingat, manis, bukan manies!

Wah keren juga ya perempuan ini berani masuk dalam ranah politik untuk mengembalikan posisi agama pada esensinya dan tidak jadi bulan-bulanan politik. Kalau sekarang, orang mungkin cenderung berpikir dengan kerangka mayoritas-minoritas sehingga yang ada justru takut-karena-minoritas dan berani-karena-mayoritas, bukan karena esensi yang hendak dibela. Membela yang esensial ini memang bisa jadi memaksa orang jadi seperti Ahok eh… Nemo.

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk berpegang pada kebenaran-Mu, bukan kebenaran versi kami sendiri. Amin.


SABTU PASKA II
(Peringatan Wajib S. Katarina dari Siena)
29 April 2017

Kis 6,1-7
Yoh 6,16-21

Posting 2016: Tenang, Ada Gue
Posting 2015:  Kadang Niat Baik Cukup

3 replies

  1. nuwun sewu romo .. badhe mundut pirsa

    agama teman saya (mayoritas di negri ini).. beliau mengatakan agamanya tdk hanya mengatur spiritualitas saja .. mengatur ekonomi (syariah).. tata busana wanita..mungkin jga tatanegara.. agama katolik tdklah demikian (sya bisa keliru), tetapi mengapa di sumatra ada pastor yang nyalon bupati (meskipun tdk di setujui uskup) atau ada uskup yg jadi presiden (fernando lugo=paraguay) tentunya tdk sprti uskup romero yg wafat di tembak sbgai oposisi kapitalis.. apakah tdk lebih baiknya bila agama masuk ke politik? untuk mengubah tatanan? terimakasih bila romo brkenan menjelaskan.. berkah dalem.

    Like

    • Om yang baik, terima kasih. Mungkin baik juga dibaca uraian singkat mengenai relasi agama dan moralitas supaya kita mengerti persoalannya. Memang agama mesti masuk ke politik, kalau tidak, ya tak ada tajinya. Akan tetapi, masuk ke politik itu dalam hal substansinya, yang nilai-nilai luhur yang diinspirasikan oleh relasi Allah dan manusia lewat agama itu, bukan unsur-unsur luarnya. Itu mengapa seorang romo tak bisa memangku jabatan publik karena dia sudah masuk dalam jajaran hirarki Gereja Katolik. Gereja Katolik takkan mengulangi kebodohannya untuk mencampuradukkan kuasa politik dan agama yang berujung pada Perang Salib dan akhirnya perpecahan Gereja sendiri pada masa reformasi.
      Tatanan yang hendak diubah Yesus dan Gereja Katolik adalah tatanan hati, bukan tatanan politik (maka hukum Gereja pun bersifat mengikat suara hati orang, bukan yang lain-lainnya). Tatanan politik apapun, kalau hati orang di dalamnya rusak, ya akan merusak peradaban juga ujung-ujungnya. Semoga tanggapan ini memberi sedikit keterangan yang diperlukan. Salam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s