Let It Go 2

Apa jadinya kalau pusat dunia ini adalah presiden Amerika, presiden Filipina, atau presiden manapun yang menggandeng kelompok radikal yang gemar kekerasan? Bisa dibayangkan bagaimana ujungnya: kehancuran melanda bukan hanya kenyataan fisik, melainkan juga kenyataan rohaninya. Begitulah jika kemanusiaan dibela secara ekstrem, begitu jugalah kalau pendukung Ahok Djarot mati-matian ngotot menginginkan mereka tetap memimpin DKI meskipun sudah kalah suara begitu banyak. Cukuplah ditanggapi dengan karangan bunga, itu juga sebaiknya tak perlu terlalu sangat berlebihan sekali amat. Sudah 1500 loh (keleus)! Mereka itu manusia juga, bukan pusat alam semesta ini.

Penulis bacaan hari ini memberi kesan seolah-olah dia bukan orang Yahudi dan menyebut hari Paska sebagai hari besar orang Yahudi. Memang betul kan Paska itu hari raya Yahudi? Ya betul, tetapi sebenarnya penulis Yohanes tak perlu juga memberi keterangan itu. Pembacanya sudah tahu bahwa Paska bukan hari besar orang Roma atau Mesir atau Asyur atau mana lagilah. Semua tahu bahwa Paska itu hari besar orang Yahudi, dan justru pemberian keterangan itulah yang menggelitik.

Pemberian keterangan itu merupakan upaya penulis Yohanes mengambil jarak dari Paska Yahudi dan Paska yang dirayakannya. Agak ja’at juga dia menekankan Paska sebagai hari besar orang Yahudi dan tidak menerangkan misalnya dengan Paska sebagai peringatan akan “Tuhan lewat” (membebaskan bangsa Israel dari kutukan yang berlaku bagi orang-orang Mesir). Itu artinya, Paska tak lagi dilihat sebagai momen Allah bekerja, melainkan momen ritual atau pesta rakyat belaka: pesta orang Yahudi, bukan pesta Allah. [Jangan-jangan begitu juga dengan demokrasi yang jadi slogan: bukan lagi rakyat berpesta kembang melainkan pestanya tukang ngemplang].

Kisah yang disampaikan bacaan hari ini menyodorkan momen Paska yang bertolak belakang. Ini bukan momennya bisnis, momennya okol, momennya orang superior, momennya ahli manajemen, dan sebagainya, melainkan momennya Allah merealisasikan cinta-Nya yang dibagi-bagikan. Memberi makan lima ribu orang hanya dengan modal lima roti dan dua ikan? Hahaha, gilu le Ndro! Nyang bener aja! Poinnya bukan bahwa ini cerita khayal ala The Lord of The Rings. Pun kalau itu tak terjadi, dan toh ternyata ada orang yang menceritakannya, si pencerita ini menyodorkan pengharapannya: menempatkan Allah pada pusat dunia hidup manusia.

Itu juga yang dipakai Gamaliel untuk meneropong peristiwa jemaat Kristen di tengah-tengah bangsa Yahudi. Katanya, biarkan saja orang-orang Kristen itu berulah karena dari pengalaman jelas toh kalau ulahnya tidak mendapat rida Allah atau bukan atas hidayah Allah ya ancur sendiri. Kalau memang bertahan, ya bisa jadi memang Allah ambil bagian di situ. Ini penghiburan untuk penggemar Ahok-Djarot: biarkan orang lain kelak berulah, kalau tidak mendapat hidayah Allah, tentulah dengan sendirinya ancur, entah menghancurkan janji sendiri atau menghancurkan pilar yang dibangun pelayan DKI sebelumnya, hahaha… Dalam keadaan seperti itu, bolehlah kita bilang: Lawan! (Tapi tak perlu menyerang ya, nanti bisa jadi lebay)

Yang penting sekarang ini orang mengembalikan pusat hidupnya kepada Allah sendiri. Bukan pekerjaan gampang, apalagi bagi yang merasa diri tahu dan bisa segalanya.

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk dapat senantiasa bersyukur dan membagikan karunia-Mu. Amin.


HARI JUMAT PASKA II
28 April 2017

Kis 5,34-42
Yoh 6,1-15

Posting 2016: Bahaya Laten Komunis
Posting 2015: Modal Duit Saja Gak Cukup

Posting 2014: Determinasi Orang Rendah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s