Hati Berbunga Tabur

Memang biasanya tamu terhormat atau terkenal atau pemenang lombalah yang dikalungi bunga tetapi pilgub DKI menjadi anomali kebiasaan itu. Rekayasa kontestan yang kalah? Pikiran waras agak sulit mengikuti logika macam itu: untuk apa jal sudah kalah kok ya malah melakukan pencitraan dengan menghambur-hamburkan uang satu milyar? Rasa saya, Ahok-Djarot itu masih terbilang waras, bukan sosok pribadi yang hendak mengejar kekuasaan. Dalam bahasa Jawa dikenal istilah ora pathèkên yang mungkin bisa diterjemahkan ‘emang gue pikirin‘ atau ‘sebodo amat‘ alias ‘kaga ngaruh‘. Maksudnya, mereka ini bukan orang yang gampang kebakaran jenggot kalau tidak mendapat posisi kekuasaan tertentu. Itu kesan saya, bisa keliru.

Penilaian Anda terhadap orang lain tidak mendefinisikan identitas orang lain, tetapi menggambarkan identitas diri Anda sendiri. Itu mengapa jika ada orang yang menilai fenomena 1000 karangan bunga sebagai upaya pencitraan, barangkali dia sendiri hidup dari pencitraan, tak lebih tak kurang. Pencitraan, juga dalam ranah hidup rohani, tak pernah menjadi jalan menuju Allah alias verso Dio #eh.

Jalan menuju Allah ujung-ujungnya adalah peziarahan interior, perjalanan batin, yang dilakukan dalam budi dan hati. Diperlukan harmonisasi antara pikiran si budi dan disposisi si hati sedemikian sehingga sinkron dengan bisikan Ilahi. Cieee…. Ini bukan soal cie-cie’an semata. Begitu omong soal rohani kebanyakan orang cenderung memosisikan diri di tempat asing. Itu lahannya ulama, pastor, pendeta, bhikku, pandita, dan sejenisnya. Padahal, kerohanian adalah soal harmonisasi budi dan hati itu tadi supaya sambung, sejalur, ‘segelombang’ dengan kehendak Allah.

Oleh karena itu, jika perhatian orang hanya tertuju pada kekuasaan politis dengan orientasi diri atau kelompoknya sendiri, itu sudah dengan sendirinya menjelaskan bahwa ia tidak sedang menapaki jalan menuju Allah bahkan meskipun di jidatnya ditempelkan salib, mengutip ayat-ayat suci, dan memakai jubah putih dan tutur katanya santun! Di situ ada ketidakharmonisan antara pikiran dan hati sehingga ketidakwarasan meraja. Tak mengherankan, fenomena 1000 karangan bunga dipersepsikannya semata sebagai upaya pencitraan dari pihak yang kalah pilkada.

Persepsi seperti itu, dalam perspektif bacaan hari ini, adalah representasi logika mereka yang cara pandangnya dikungkung oleh pikiran materialistik. Ini akan jauh berbeda dengan cara berpikir yang melibatkan hati. Ada empati di situ dan orang yang berempati ini melihat hati. 1000 karangan bunganya mungkin tak penting, mungkin tampak seperti pemborosan, bisa jadi malah nyampah, atau bisa dipandang positif menguntungkan pedagang bunga. Itu sangat teknis. Yang utama ialah pesan yang hendak disampaikan melalui rangkaian bunga itu: simpati terhadap kualitas pemimpin yang keberpihakannya pada kebenaran, keadilan, kesejahteraan bersama, lebih daripada dukungan konglomerat, politikus (busuk), dan ahli agama (munafik).

Tanpa harmonisasi dalam perjalanan menuju Allah, hati orang lebih didominasi bunga tabur alias matilah nuraninya dan segala penilaiannya jadi jungkir balik: yang sebenarnya disangkal, yang salah dibenar-benarkan. Ini lama-lama bakal menyesatkan juga.

Ya Tuhan, mohon rahmat untuk menyeimbangkan hati dan budi kami. Amin.


HARI KAMIS PASKA II
Pesta Wajib S. Petrus Kanisius (SJ)
27 April 2017

Kis 5,27-33
Yoh 3,31-36

Posting 2016: IGD Ini Genitnya Dewan
Posting 2015: Taat kepada Allah Mah Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s