Play Duit atau Play Do’i

Proses kekalahan Ahok rasa-rasanya merupakan cerminan dinamika surutnya akal sehat. Apakah ini pernyataan orang yang gagal move on, saya tidak tahu, tetapi kalau melihat sejarah politik Indonesia sih, pernyataan itu ada benarnya juga. Biar bagaimanapun, demokrasi menang-kalah dalam masyarakat plural seperti Indonesia, pasti akan rentan terhadap pelecehan akal sehat dan yang jadi pemainnya adalah orang-orang berduit karena suara penentu menang-kalah tadi bisa dibeli dengan duit. Apalagi kalau agama diseret-seret dalam proses politik itu: jika duit dan agama bersekongkol, kelar idup loe! Korbannya, jelas, orang-orang yang tak berduit bahkan meskipun label mereka dicatut oleh pengkhianat-pengkhianat laknat itu.

Meskipun demikian, ada hal yang membuat orang, semiskin apapun, tak akan kelar hidupnya meskipun agama dan politik bersekongkol. Ini bisa dimengerti dari bacaan-bacaan yang disodorkan hari ini. Bacaan kedua adalah wacana terakhir antara Yesus dan Nikodemus, ahli agama yang penasaran akan kebenaran yang disodorkan Yesus. Ada dua poin besar yang disampaikan di situ: (1) cinta Allah kepada dunia dan (2) iman manusia kepada Allah. Allah sedemikian cintanya kepada dunia, yaitu seluruh umat manusia tanpa pengecualian, sehingga Ia mengutus Putera Tunggal-Nya bukan untuk menghakiminya, melainkan untuk menyelamatkannya. Itu dari pihak Allah. Dari pihak manusia, tanggapan terhadap cinta Allah itu menentukan apakah ia akan hidup atau mati, dihukum atau dibebaskan, hidup dalam terang atau kegelapan, hidup dalam kejahatan atau kebaikan.

Persekongkolan agama dan politik jelas bukan ranah cinta Allah kepada dunia. Ini adalah ranah tanggapan manusia terhadap cinta Allah itu dan tanggapan inilah yang menentukan hidup matinya kemanusiaan sendiri. Sayang beribu sayang, ada lebih banyak orang yang bisa dibodohi persekongkolan ini dengan ayat-ayat Kitab Suci sehingga tak bisa lagi melihat dengan jernih wujud cinta Allah kepada dunia itu. Apa yang membuat orang bisa dibodohi persekongkolan ini? Kisah bacaan pertama barangkali bisa memberi gambaran bagaimana persekongkolan politik-agama itu dilawan. Kisahnya memang berbau supranatural. Para rasul yang dipenjarakan oleh imam besar dan pemuka agama lainnya, entah bagaimana, pokoknya lolos dari rantai, padahal ada penjaga dan pintu penjara terkunci rapi, dan dengan leluasa pergi bahkan ke Bait Allah untuk berkhotbah.

Tanggapan manusia terhadap cinta Allah ialah kebebasan, yang takkan jalan jika orang memelihara ketakutan. Saya tak menghadiri sidang Ahok tetapi konon pledoinya sangat kental dengan paparan keyakinan imannya. Yang mengesankan saya bukan paparannya tentang ayat-ayat Kitab Sucinya, tetapi bagaimana ia menunjukkan keberaniannya untuk menentukan pilihan dalam menghadapi persekongkolan politik-(duit)-agama: LAWAN! Tentu saja gampang bagi saya untuk menuliskan hal ini, tetapi barangkali sulit untuk merealisasikannya: memilih hidup daripada kematian di hadapan politik-agama kotor.

Perbedaan antara hidup dan kematian dijungkirbalikkan: melalui kematian, kekalahan, atau kemaluan (kenapa sih kata ini harus dilekatkan pada anu sehingga jadi jorok?), hidup baru ditawarkan kepada mereka yang beriman. Hidup baru kek mana? Hidup yang berasal dari karunia cinta Allah dan iman kepada-Nya tadi, yang melepaskan belenggu ketakutan dalam diri orang beriman untuk melawan (bukan menyerang), yang membiarkan Allah ‘bermain’.

Ya Tuhan, mohon rahmat kebebasan dan keberanian untuk melawan aneka persekongkolan keji antara politik, duit dan agama. Amin.


HARI RABU PASKA II
26 April 2017

Kis 5,17-26
Yoh 3,16-21

Posting 2016: Komitmen Berhadiah
Posting 2015: Neraka Bukanlah Hukuman

Posting 2014: Habisi Gelap Terbitkan Terang

2 replies

  1. sugeng sonten romo… badhe nyuwun pencerahan malih…

    Pagi tadi sya ikut misa harian kebetulan homili romo yg mimpin mungkin mirip tulisan romo di atas terinspirasi dari bacaan pertama dimana para rasul “dihambat ” untuk mewartakan kasih sukacita karena trpenjara dan terancam.. kemudian romo tsb meneguhkan kami.. umat tak perlu takut utk mewartakan sukacita kepada setiap orang seperti para rasul walaupun realitas politik sekarang mungkin tak begitu berpihak pada umat katolik (beliau menyebut “merk” suatu partai atau ormas yg seolah menghambat).. mungkin ini kaitannya dg pilkada / politik seperti yang penjenengan tulis di atas.. di lain pihak saya pernah melihat tv kbetulan di situ ada romo magnis sj dalam closing statment nya beliau ngendika kalau jakarta juga untuk orang miskin serta harus di utamakan pula kesempatan dalam beribadah.. menjadi kebingungan saya.. sudah trjepitkah agama minoritas padahal saya punya teman sahabat yang berbeda agama yg jauh lebih akrab dari pada teman dg keyakinan yang sama dan sya samasekali tak melihat perbadaan? … dan biasanya saya melihat kebrutalan “lawan” mungkin dengan melempari gereja itu hanya masalah politik belaka? bagaimana seharusnya bersikap… matur sembah nuwun menawi kersa nanggapi.. berkah dalem.

    Like

    • Menurut saya, dalam situasi seperti ini memang kaum minoritas mesti pandai-pandai melakukan dialog kehidupan-kemanusiaan dengan kelompok lainnya. Saya sendiri tidak merasa bahwa minoritas sedemikian terdesak. Hanya saja kelompok radikal di negeri ini sedang mendapat angin dari kelompok yang punya kepentingan sehingga suaranya terdengar begitu keras. Meskipun demikian, ini membahayakan semangat kebangsaan, terlepas dari soal mayoritas-minoritas. Berkah Dalem.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s