Mau Dikebiri Eaaaa….

Sudah sejak pertengahan abad lalu dikatakan Paus Paulus VI bahwa zaman kita ini membutuhkan tokoh keteladanan lebih daripada guru, staf pengajar, dosen, dan sejenisnya. Fakultas pendidikan mestinya lebih berorientasi membina tenaga pengajar yang bisa memberi kesaksian hidup lebih daripada tukang transfer ilmu. Dengan kata lain, dunia pendidikan mestinya memungkinkan anak didik itu punya integritas yang baik. Alhamdulillah, sekarang ini sudah mulai ada unsur indeks integritas dalam ujian nasional. Itu pasti bukan penjamin integritas kepribadian anak didik, tetapi sekurang-kurangnya bisa jadi infrastruktur ke sana.

Posting tahun lalu menyisakan pertanyaan bagaimana menata chemistry dan disebut contohnya pada kisah Tobit dan Sara, tetapi mungkin baik dipertimbangkan juga konteks hidup kita sejauh ditayangkan media: kekerasan seksual yang direspon dengan wacana hukum kebiri. Kejahatan pada umumnya ‘hanyalah’ simptom masyarakat yang sakit. Maka, mencederai pelaku kejahatan jelas cuma menambah simptom kesakitan masyarakat. Bisa sih pemerkosa (entah single fighter ataupun komplotan) dikebiri, dan mungkin saja mereka kapoy… eh, kapok. Akan tetapi, hukum ini tak mempersoalkan kelalaian masyarakat yang memungkinkan perkosaan itu terjadi. Akar persoalannya tetap tinggal: orang terus dicekoki paradigma kekuasaan yang menempatkan orang sebagai barang atau komoditi!

Kalau kita selisik lebih jauh kenapa paradigma kekuasaan itu laris, barangkali bisa kita temukan pada sikap batin yang didominasi oleh ketakutan: takut tak dihormati, takut tak diakui, takut dilecehkan, takut dianggap tak berharga, takut ketinggalan zaman, takut dianggap penakut, takut kemalingan, takut tak bisa sekolah, takut mati, dan sebagainya. Tak jarang orang yang takut justru punya defence mechanism begitu agresif. Sebelum dilukai, lebih baik melukai; sebelum dibully, lebih baik membully dulu; sebelum rezeki habis, lebih baik menghabiskan rezeki orang lain dulu, dan sebagainya. Dari situ, relasi yang dibangun bukanlah relasi antarpribadi, melainkan relasi kekuasaan: aku lebih kuasa daripada yang lain, kalau tidak dalam hal yang satu, ya dalam hal yang lainnya.

Bacaan pertama hari ini menunjukkan persis poin sebaliknya. Begini kata Paulus kepada Timotius menurut terjemahan baru: Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Begitulah, chemistry bisa direkayasa dengan mengandalkan roh yang membangkitkan kekuatan kasih yang memberi orientasi hidup bersama. Apa mengandalkan roh macam itu gampang? Ya tidak (loh, ya kok tidak sih)! Tetapi persis di situlah persoalan merekayasa chemistry: menyingkirkan aroma ketakutan, meminimalisir lingkaran kekhawatiran dengan membiarkan roh Allah bekerja dalam diri.

Itu tak bisa dicapai dengan usaha manusiawi belaka. Dibutuhkan api rahmat Tuhan juga dan Paulus mengingatkan Timotius supaya mengobarkan karunia Allah yang ada padanya oleh penumpangan tangan Paulus ke atasnya. Kata mengobarkan (ἀναζωπυρεῖν, anazopyrein) itu seperti tukang sate yang mengipasi bara supaya abu-abu yang menutupi bara itu pergi ke laut dan arangnya tetap membara. Konon itu pula yang dikatakan seorang Santo: rahmat Allah itu seperti api, yang kalau tertutup debu, panas tetapi tak memberi cahaya. Kebiri, mungkin “panas”, tetapi tak memberi cahaya. Cinta sejati, memang tak populer, tetapi inspiratif.

Ya Tuhan, semoga kami punya cukup kekuatan untuk mengobarkan karunia-Mu. Amin.


RABU BIASA IX
(Pesta Wajib St. Yustinus Martir)
1 Juni 2016

2Tim 1,1-3.6-12
Mrk 12,18-27

Posting Rabu Biasa IX B/1 Tahun 2015: Mari Rekayasa Chemistry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s