Catatan untuk Seksi Liturgi (5)

Saya tidak merasa nyaman saat menjelaskan bacaan dari Kitab Suci, ada prodiakon yang menyalakan lilin yang mati tertiup kipas angin, mati lagi, menutupinya dengan buku, menggeser posisi lilin, dan seterusnya sedemikian rupa sehingga perhatian umat justru tertuju pada lilin itu! Iki “liturgi” ulang tahun po piye yo?!

Ketidaknyamanan itu tidak berasal dari kebutuhan untuk didengarkan atau dihormati; sama sekali tidak. Ketidaknyamanan itu berasal dari keprihatinan bahwa Sabda Allah tidak lebih diperhatikan daripada lilin yang mati! Loh, kan bisa saja sembari berusaha menyalakan lilin orang tetap mendengarkan kotbah/homili? Secara teoretis, itu meragukan karena fokus perhatian orang tak bisa simultan (ini sudah dijelaskan dalam “Catatan untuk Seksi Liturgi” lainnya; tetapi juga narasi Maria dan Marta bisa menerangi problem seperti ini). Secara praktis, tindakan itu justru merupakan distraksi terhadap fokus umat lainnya. Lha trus gimana mosok lilin mati didiamkan saja? Bukankah itu simbol terang Roh Kudus dan bukankah simbol itu tidak bisa direduksi sebagai “hanya tanda” karena melalui simbol itu juga dinyatakan apa yang ditandakan (bahwa dengan nyala lilin itu memang terang dinyatakan)?

Menurut saya, pertanyaannya ialah: apakah jika lilin itu mati lantas Roh Kudus tidak hadir!
Jawabannya pun jelas: Roh Kudus tetap hadir.
Nah, apa manifestasi Roh Kudus yang hadir saat itu? Roh yang sedang mengetuk budi dan hati kita untuk mendengarkan Sabda Allah (lewat kotbah/homili imam) atau simbol terang lilin di ruangan berlampu 120 watt?!
Ya Sabda Allahnya itu, Mo.
Kalau begitu, kenapa mesti bersibuk ria dengan lilin?!!!
Loh, jadi lilin mati itu dibiarkan saja ya, Mo?
Hadeeeeeh, cape deh.

Bangunan gereja megah di Eropa senantiasa mengagumkan dan bisa saya bayangkan jika perayaan Ekaristi dilakukan di gedung seperti itu pada malam hari di abad pertengahan atau sebelumnya, bagaimana pemimpin ibadat bisa membaca teks Kitab Suci? Apalagi jika dulu jemaat Kristen awal mesti merayakan Ekaristi secara sembunyi-sembunyi di tempat gelap, bagaimana mereka membaca Kitab Suci? Braille baru hidup pada abad ke-19!
Paling gampang jawabannya: pakai obor, lilin, senthir atau apa pun sebutannya.

Artinya, lilin atau obor itu ya pada awalnya fungsional: supaya orang bisa membaca dalam gelap! Makna teologis datangnya belakangan. Nah, kalau begitu, umat beriman tak perlu lebay memperlakukan lilin dan aneka alat-alat dan perlengkapan liturgi lainnya sebagai peranti yang lebih penting daripada misteri yang hendak dirayakan bersama (meskipun secara teologis lilin itu adalah simbol terang Roh Kudus). Memang puncak Liturgi Sabda ada pada bacaan Injil, tetapi tidak otomatis pada saat Bacaan Injil itu umat langsung menangkap pesan Injil (apalagi kalau nguantuk pol setelah seharian kerja ngojek). Maka dari itu, kotbah/homili pantas mendapat perhatian lebih daripada lilin yang mati tertiup kipas angin.

Jadi, lilin mati itu dibiarkan saja ya? Haaasssuudahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s