Catatan untuk Seksi Liturgi (2)

Mengetik tanpa memandang monitor dan keyboard bukan hal luar biasa. Pernah suatu kali saya menjadi notulis dan mengetik secara verbatim apa yang disampaikan pembicara seminar dan bersamaan dengan itu saya bertanya jawab dengan teman yang saat itu memerlukan sesuatu. Jari terus mengetik yang dikatakan nara sumber, mata tertuju pada teman dan mulut menyampaikan informasi di mana barang itu bisa diambil. Akurasi ketikan 100% dan teman saya mendapatkan barang yang dimaksud. Wow… tampaknya mengagumkan. Akan tetapi, pengalaman ini justru menunjukkan bahwa multifocusing secara simultan itu nonsense. Kenapa? Karena saat itu saya tak mengerti apa yang saya ketik secara verbatim. Bukan karena saya tak bisa memahaminya, melainkan karena fokus saya pada saat itu adalah dialog dengan teman yang mencari barang.

Lha njuk ini apa toh hubungannya sama Seksi Liturgi Paroki atau Lingkungan? Haha… sabar brow! Buru-buru juga mau ngapain sih? Nanti bayar voorijder aja pasti cepet sampai deh! Haaaa….

Orang mungkin mengklaim bisa belajar sambil mendengarkan musik atau berBBM ria atau aktivitas lainnya. Ia bisa dengan bangga menyebut diri sebagai anggota generasi multitasking tetapi lupa bahwa multitasking-nya tidak berjalan secara simultan. Multitasking secara simultan adalah kemampuan peranti komputer, bukan kemampuan orang pada umumnya! Ah, gak juga, Rom, saya biasa tuh sewaktu belajar selalu nyetel musik kesukaan saya dan hasil belajar saya bagus! Itu kan juga simultan: belajar, membaca pada saat bersamaan denger musik!

Lha itu dia! Mendengar musik beda jauh dengan mendengarkan musik! Yang pertama aktivitas sensorik-motorik, yang kedua melibatkan dimensi intelektual-afektif. Jadi, pada saat Anda fokus pada bacaan, Anda tidak fokus pada musik, dan sebaliknya. Musik itu jadi semacam penari latar. Orang tak bisa hidup dalam sepi, lalu nyetel musik untuk mengiringi belajarnya. Tetapi saat orang sungguh belajar, ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan musik. Ini mengapa orang bisa pada suatu saat begitu tergila-gila dengan bagian musik tertentu, padahal ia sering mendengar musik itu.

So, fokus manusia umumnya tak bisa menandingi kemampuan multitasking mesin yang bisa bekerja secara simultan. Lah, njuk hubungannya sama liturgi apa je, Rom?

Jika selama merayakan ibadat, liturgi, Ekaristi, perhatian kita disibukkan oleh rubrik (itu loh, aneka petunyuk pada tata perayaan: harus berdiri, tangannya harus sejauh sekian senti, kepala harus menunduk, tangan kiri harus di atas tangan kanan, dan lain sebagainya), kita salah fokus!

Kesibukan dengan rubrik lebih masuk akal dilakukan sebelum perayaan liturgi sebagai persiapan (itu mengapa pastor butuh sekolah dan latihan) atau sesudahnya sebagai evaluasi. Selama perayaan liturgi, sewajarnya umat beriman membiarkan diri dihidupi Roh yang senantiasa hadir. Ini bukan Roh penasaran! Ini adalah Roh yang menggerakkan perhatian orang pada Sabda, pada Perjamuan, pada cinta Kristus, pada misteri iman, harapan dan sebangsanya. Fokus pada rubrik dalam perayaan (seperti orang berpidato atau berkotbah tetapi masih terpaku pada teks pidatonya) lebih merupakan distraksi daripada akomodasi, keterbukaan kepada Roh yang berkarya.

Lain waktu kita lanjutkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s