Tak Ada Tuhan dalam Liturgi

Menyangkal adanya Tuhan dalam liturgi memang meruntuhkan dalil bahwa Tuhan ada di mana-mana. Akan tetapi, itu cuma logika verbal dan blog ini tak pernah hendak mengurung Tuhan dalam logika verbal. Posting ini bicara soal “bagaimana Tuhan mengada atau berada”, bukan “apakah Tuhan ada atau tidak”.
Kalau pokok persoalannya bagaimana Tuhan mengada, kok bawa-bawa liturgi segala, Rom? Sepertinya Romo ini punya luka batin sama liturgi ya? Haaaaaaaahahahaha…. hus!

Banyak orang jatuh ke dalam idolatri atau penyembahan berhala dan berhala itu tak selalu identik dengan patung, tetapi bisa juga berupa ideologi (komunis, antikomunis, liberal, antiliberal, dll, silakan pilih sendiri). Biasanya yang menyembah berhala ini gak mau disebut begitu karena yakin bahwa yang dibuatnya itu benar, bahwa yang diagung-agungkannya bukan berhala. Di situlah soalnya: bagaimana kita bisa mengatakan yang begini berhala dan yang begitu bukan berhala. Jawaban shortcut ada pada azas dan dasar: pada saat orang memperlakukan sarana sebagai tujuan, sarana itu jadi berhala.

Supaya tidak jadi wacana teoretis belaka, mari lihat dua hukum utama dalam teks hari ini: pertama, cinta kepada Allah (sebutlah vertikal) dan kedua, cinta kepada sesama (sebut saja horisontal). Kedua hukum ini saling terhubung dan tidak saling meniadakan. Tak ada cinta kepada Allah yang ditempuh tanpa cinta kepada sesama. Cinta kepada sesama yang mengabaikan dimensi vertikal itu ideologis dan malah bisa manipulatif. Loh, kok malah teoretis sih, Rom? O iya ya.

Andaikan Anda ikut misa dan kornya menyanyi secara amburadul, siapa yang terganggu: Anda sebagai umat, sebagai imam, atau Tuhan yang Anda sembah? Kalau lektor pembaca teks Kitab Suci nervous dan kepleset terus dalam membaca, siapa yang terganggu: Anda sebagai umat, sebagai imam, atau Tuhan yang Sabda-Nya dibacakan? Saya kira problem ada dalam kepala kita sendiri. Alih-alih fokus pada disposisi batin dan kesadaran hidup di hadirat Allah, umat dan imamnya bisa jadi sibuk berpikir,”Siapa sih lektornya ini? Kornya ini dari mana sih? Siapa sih organisnya?” dan perasaan yang menyertainya ialah kepo, jengkel, marah, sebel, alias perasaan-perasaan negatif.

Bandingkan dengan momen ketika dalam misa itu kornya menyanyi dengan baik, menggugah semangat, menyentuh hati. Bisa jadi Anda sebagai umat dan imam punya pikiran kepo juga,”Siapa sih dirigennya? Dari lingkungan mana sih kornya?”. Akan tetapi, pikiran itu disertai perasaan positif: gembira, kagum, salut, tergugah. Mungkin dari situ juga muncul niat baik: saya juga akan bikin kor seperti itu, saya akan ajak anak untuk belajar organ, saya akan menyumbangkan bakat dekor altar saya, dan sebagainya.

Manakah dari momen itu yang tampak lebih menggembirakan? Tentu yang kedua, ketika dinamika pikiran kita dalam ritual disertai perasaan positif karena petugas ritual menjalankan tugasnya dengan baik. Maka dari itu ritual perlu ditata supaya orang-orang yang mengikutinya mengalami dinamika positif dalam mengikuti ritual. Nah, penataan ritual atau tata liturgi ini adalah ranah horisontal, bukan ranah vertikal. Ini yang kerap dilupakan.

Kalau tata liturgi itu adalah ranah horisontal, orang tidak bisa memperlakukannya sebagai tatanan vertikal sehingga hanya karena punya otoritas lantas memaksa: kamu mesti menatap hosti, membungkuk 85º (kenapa kok gak 86º aja?), gak boleh menengadahkan tangan (karena itu hak pastor!). Kalau tata liturgi adalah ranah horisontal, umat juga tak perlu memandang tata liturgi secara letterleijk sebagai Sabda Allah sendiri sehingga pikiran malah didominasi untuk memenuhi rubrik lebih daripada menata sikap batin untuk berdoa, membangun kepekaan hati terhadap kehendak Allah dalam hidup.

Lha njuk ranah vertikalnya di mana, Romo? Ya dalam kesadaran dinamis kita untuk menerjemahkan Sabda Allah dalam hidup itu tadi. Kalau kesadaran itu direnggut rubrik, dimensi vertikal absen; dalam arti itulah Tuhan gak ada dalam liturgi!

Masih ingat Tiwal dan Tiwul ya? Tiwul ini kalau ke gereja, pertama kali cari air suci, bikin tanda salib, lalu matanya jelalatan melihat lampu tabernakel menyala atau tidak. Suatu kali kosternya lupa menyalakan lampu tabernakel sehingga Tiwul berpikiran tak ada sakramen dalam tabernakel. Maka, ia tidak berlutut atau membungkukkan badan sebelum ke masuk ke deretan bangku tempat duduk. Tiwal tak seteliti Tiwul, ia tetap membungkuk 60º, dan mulailah Tiwul protes,”Kamu ngapain bungkuk-bungkuk segala? Kurang 30º pula! Lihat tuh lampu tabernakelnya mati.” Tiwal tak hendak bersilat lidah menyerang balik Tiwul,”Aku hormat pada Kristus yang tersalib, yang mengundangku bertobat.”

Saat Sabda Tuhan dibacakan, Tiwul tidak membaca teks karena memang itu dilarang, ia melihat lektrisnya, dan pikirannya melayang-layang karena wajah lektrisnya mengingatkan dia pada mantannya. Tiwal mendengarkan suara lektris sembari berusaha mengerti kata-kata yang tersurat pada teks Kitab Suci.
Tiwul tak pernah membuat tanda salib dengan air suci saat meninggalkan gereja karena begitulah aturannya. Tiwal tidak mengambil air suci karena sudah terlalu banyak yang antri, selain juga karena tahu itu tidak wajib; lain waktu ia mengambil air suci selesai misa untuk mengingatkan dirinya sendiri demi menyucikan hidupnya sepulang dari gereja.

Tiwul sepertinya punya idol: aturan liturgi, tatanan horisontal. Tiwal tampaknya berupaya menangkap roh dari tata liturgi dan tidak meributkan aneka detil yang kadang lebay alias ngoyoworo. Mungkin dia membaca buku tulisan Mgr. I. Suharyo: Ekaristi, Meneguhkan Iman, Membangun Persaudaraan, Menjiwai Pelayanan. Ini buku yang memungkinkan orang “menghadirkan” Allah dalam liturgi.


KAMIS BIASA IX
2 Juni 2016

2Tim 2,8-15
Mrk 12,28b-34

Posting Kamis Biasa IX B/1 Tahun 2015: Untuk Apa Ritual?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s