Berpelukan

Seorang sohib terkenal, meskipun tak perlu saya sebutkan di sini, mengingatkan saya bahwa hidup publik seseorang tidak selalu sinkron atau terhubung dengan hidup privatnya. Idealnya begitu (hidup publiknya sinkron dengan keaslian pribadinya), tetapi lebih banyak orang yang mengalami keterpecahan atau keretakan dalam hidupnya. Tampilan publiknya bisa jadi sangat spektakuler tetapi karakter pribadinya bisa jadi berlawanan dengan façade yang ditampilkannya. One may keep his hostility hidden behind a friendly façade, kata Cambridge Dictionary. Contohnya tidak jauh-jauh amat: saya sendiri. Dalam media sosial saya begitu ramah [untuk tidak mengatakan sadis], tetapi bisa jadi ketika jumpa man to man atau man to woman saya jadi dingin seperti tidak kenal. Bukan bermaksud jahat tentunya (malah bisa jadi baik demi menjaga perasaan orang lain di depan publik). Problemnya ada pada saya, cuma punya short memory untuk media sosial, apalagi kalau tak ada perjumpaan pribadi.

Atau jangan-jangan, memang itu wajar-wajar saja di zaman now ini: orang tersambung satu dengan yang lainnya tanpa basis perjumpaan pribadi? Barangkali begitu, tetapi memang saya sebagai digital immigrant tidak menganggapnya sebagai kenyamanan. Ya tak apa-apa, toh hidup ini juga tidak selalu mesti diupayakan demi kenyaman ini atau itu. Mesti ada ketidaknyamanan tertentu demi sesuatu yang lebih besar. Persoalannya tinggal ‘sesuatu yang lebih besar’ tadi apakah memang sinkron dengan kepentingan bersama atau cuma kepentingan segelintir orang.

Bacaan hari ini bisa jadi reminder orang beriman mengenai hal itu: orang mesti waspada supaya tidak terjerembab pada persoalan parsial dan tetap melihat kepentingan besar. Akan tetapi, pun kalau sungguh memperhatikan kepentingan besar, orang juga perlu waspada supaya kepentingan besar itu bukan cuma proyek besar yang memalsukan hidup sejatinya, yang memecah hidup publik dari hidup privatnya. Loh, apa dengan begitu bukannya jadi tiada ranah privat lagi, Mo? Bukan begitu, melainkan nilai yang disodorkan di hadapan publik, itulah juga nilai yang dihayati, yang diinternalisasikan dalam hidup pribadi. 

Karena itu, melihat orang berpelukan, orang pun tetap perlu waspada. Konon ada pakar gestur yang mengamati presiden dan capres [semoga abadi labelnya] berpelukan sebagai pelukan bapak dan anak. Yang lain berkomentar dengan nuansa nasihat supaya masyarakat tidak emosional sebagai pendukung karena yang didukung saja berpelukan. Saya tetap berpijak pada nasihat sohib saya tadi dan juga teks bacaan hari ini untuk waspada dan berjaga-jaga karena alasan tadi: yang ditampilkan di hadapan publik itu bisa jadi façade yang di baliknya bisa memuat perang bintang, meskipun saya percaya bahwa olah raga bisa menyatukan beragam orang. Pokoknya, orang tetap fokus. Bukankah ini juga yang disarankan oleh Via Vallen? Harus fokus, satu titik, hanya itu, titik itu. Tetap fokus, kita kejar dan raih bintang…

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya kami tetap fokus meraih bintang kepentingan bersama lebih daripada nafsu untuk berkuasa. Amin.


KAMIS BIASA XXI B/2
30 Agustus 2018

1Kor 1,1-9
Mat 24,42-51

Kamis Biasa XXI A/1 2017: Agama Bukan Cuma Sarana
Kamis Biasa XXI C/2 2016: Just In Case

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s