Menjilat Tuhan

Salah satu trik yang bisa dipelajari dari tokoh-tokoh bacaan hari ini, betapapun mereka adalah tokoh antagonis, ialah menyenangkan hati orang yang akan kita mintai sesuatu supaya sesuatu itu dikabulkan, diberikan kepada kita. Singkatnya: bagaimana menjilat. Herodes disenangkan hatinya oleh Herodias dan anaknya dan kemudian permintaan bahkan penggalan kepala Yohanes Pembaptis pun dikabulkan. Coba kalau anak Herodias itu menyedihkan hati Herodes, pasti dia tak akan ditawari untuk mengajukan permintaan hadiah. Jadi, menjilat itu ada trik juga ya.

Nah, repotnya, bagaimana menjilat Tuhan ya? Maaf, bukan maksud saya menyamakan pembaca dengan makhluk yang disebut kirik loh. Akan tetapi, memang menjilat Tuhan itu beda sama sekali dari menjilat Herodes, presiden, ketua partai, ketua majelis, hakim, dan sebagainya. Menjilat hakim masih bisa dilakukan dengan duit, begitu pula menjilat presiden, warga tersingkir, dan sejenisnya. Kalau duit tak ada, jilatan dengan kemunafikan juga masih ampuh, apalagi di ranah politik. Menjilat Tuhan tidak mungkin dilakukan baik dengan duit maupun kemunafikan tadi. 

Itu mengapa tak banyak orang yang mau menjilat Tuhan: tanpa duit dan kemunafikan, risikonya adalah tidak mendapat apa-apa, malah mesti memberikan apa-apa, memberikan diri. Itu mengapa lebih banyak orang beragama daripada orang beriman. [Memangnya beda ya, Mo, beragama dan beriman? Ya ada sih bedanya, tapi kalau mau dipukul rata ya silakan, saya lebih suka membedakannya sebagai identitas kolektif dan identitas individual, bungkus dan isi, formal dan material, dan seterusnya.] Menjilat Tuhan tidak berbeda dari upaya menemukan Sabda-Nya di kedalaman hati orang, dalam kemanusiaan, keadilan sosial, kesejahteraan bersama. Susah. Dari situlah orang malah bisa sungguh menyenangkan orang lain. Sayangnya, kebanyakan orang membuat urutannya terbalik: menyenangkan orang lain dulu sebelum menyenangkan Tuhan. Karena itu, tak sedikit pula yang kebablasên [Bahasa Indonesianya apa sih?] seperti Herodes: memperlakukan nyawa orang sebagai taruhan jilatannya maupun jilatan Herodias.

Tuhan, semoga kami dapat menyenangkan-Mu tanpa menginjak-injak kemanusiaan. Amin.


PERINGATAN WAJIB WAFATNYA YOHANES PEMBAPTIS
(Rabu Biasa XXI B/2)
29 Agustus 2018

Yer 1,17-19
Mrk 6,17-29

Posting 2017: Makan Perasaan
Posting 2016: Minta Apa Eaaa…

Posting 2015: Diam Tanda Setuju?

Posting 2014: Florence oh Florence

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s