Diraih Bintang

Barangkali lagu terpopuler belakangan ini berjudul “Meraih Bintang”, yang dinyanyikan oleh tetangga jauh (banget) saya, Via Vallen, yang membuat presiden RI bergoyang, dan yang sampai sekarang juga saya belum hafal liriknya. Entah Anda hafal atau belum, pokoknya raihan medali emas kontingen Indonesia melampaui target 16 emas (eh, berapa sih?). Presidennya optimis, rakyatnya tidak semua optimis, dengan alasan “realistis”. Tentu itu bukan makar, tetapi mungkin malah membuktikan bahwa presiden ini layak meneruskan masa kerjanya, eaaaaa.

Yang barangkali terhubung dengan teks bacaan hari ini ialah bagaimana presiden dan orang yang bukan presiden itu melihat perhelatan Asian Games ini. Bacaan hari ini masih melanjutkan kata-kata keras guru dari Nazareth terhadap orang beragama yang hidupnya munafik dan kemunafikannya melebar sampai ranah politik juga: kebebasan berpendapat dimengerti sebagai kebebasan absolut, seakan-akan orang bebas menebar pengaruh tanpa melihat kualitas pengaruhnya, seolah-olah demokrasi (yang cuma dimengerti sebagai prosedur) adalah segala-galanya tanpa mempertimbangkan isinya.

“Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan,” begitu terjemahan teks Bahasa Indonesianya. Pesan itu tak perlu dipersempit sebagai kritik terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat, tetapi juga bisa dilihat sebagai sikap dasar terhadap isi dan kulit, yang material dan formal. Kalau mau dihubungkan ke sikap presiden tadi: optimisme dan harapan. Dua-duanya dipegang oleh presiden. Sedangkan yang bukan presiden itu cuma memegang sikap “realistis” tanpa harapan. Barangkali karena sewaktu dia bekerja dulu memang “realistis” tanpa harapan, sehingga cuma bisa melihat dari luar. Sang presiden melandasi optimismenya dengan harapan, dengan passion yang ditularkan dari kedalaman hidupnya kepada para atlet.

Kalau mau dihubungkan dengan sosok yang diperingati Gereja Katolik hari ini, Augustinus, barangkali bisa dicamkan apa yang disampaikan kepadanya oleh seorang uskup yang mempertobatkannya. Ia berlagak mencari Kebenaran dengan serong kiri serong kanan, tetapi tak memberi tempat bagi Kebenaran untuk menemukannya. Begitulah, juga dalam usaha manusia mencari Tuhan, ia mesti membiarkan Tuhan menemukannya; tak perlu berlagak bahwa semua adalah usahanya semata. Barangkali justru dengan itu, bintang yang meraih kita. Dapat emas ya syukur, enggak juga gak apa, soalnya sudah melampaui target, eaaaa.

Tuhan, mohon hati yang dapat merendah di hadapan-Mu, di hadapan Kebenaran, dalam kerja keras kami. Amin.


SELASA BIASA XXI B/2
Peringatan Wajib S. Augustinus
28 Agustus 2018

2Tes 2,1-3.13-17
Mat 23,23-26

Selasa Biasa XXI C/2 2016: Tampilanisme
Selasa Biasa XXI B/1 2015: Cuma Bensin Yang Bisa Murni?

Selasa Biasa XXI A/2 2014: Mobil Keren, Mental Kere

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s