Psikologi Campur Aduk

Pada halaman lalu diindikasikan bahwa ‘aku’ bersifat metafisik sekaligus terhubung dengan dimensi sejarah/historis karena unsur fisik ‘aku’ itu. Kenapa bisa begitu? Telusuri saja sejarah ‘aku’ itu tadi. Saya menggambarkan bagannya seperti di bawah ini (tentu bisa dimodifikasi dengan hirarki yang lebih tepat lagi):

Tak ada orang yang terlahir dengan identitas ‘aku’ yang sudah paten. Semua orang hidup dalam conditionings. Cara orang merasa, melihat, berpikir, bertutur kata, berpendapat, menilai, menghakimi, seringkali ditentukan oleh conditionings itu. Dari mana conditionings itu? Ya dari orang-orang di sekelilingnya. Seorang anak terbiasa memberi dan menerima sesuatu dengan tangan kanan karena pengaruh pengasuhnya dan orang-orang di sekitarnya. Dari mana mereka memperoleh cara bertindak seperti itu? Bisa jadi dari agama, dari sekolah, dari masyarakat, dan seterusnya. Begitu seterusnya sampai orang bisa saja mengidentifikasi dirinya aneka macam conditionings.

Contohnya sudah jelas dengan bagan yang saya sodorkan di atas. Pada bagian tengah identitas diri itu saya sisipkan dua teks dari Injil untuk mengatakan bahwa aku adalah “anak Allah”. Identitas ini jelas datangnya dari conditionings agama Kristen, bukan? Orang lain lagi bisa mengidentifikasi dirinya dengan sesuatu yang berbeda dan dari situ bisa dilihat ada stereotype tertentu. Misalnya, dulu saya diancam oleh teman senior dari Belanda karena dia menghendaki saya menyapanya dengan nama panggilan tanpa gelar atau sapaan lain. Saya tak bisa memanggil orang yang jauh lebih tua tanpa kata sandang “Pak” atau “Bu”, misalnya. Teman saya itu mengancam,”Kalau kamu tak bisa memanggilku Joep, kita takkan bertemu lagi.” Pada saat itulah saya menjawab,”Okelah, Joep.” Saya melepaskan stereotype “anak Jawa” dan Joep tertawa melihatnya.

Juga dengan contoh itu menjadi jelas bahwa rupanya identitas itu bisa berubah-ubah, bergantung pada positioning yang diambil seseorang. Meskipun saya sudah terkondisikan sebagai orang Jawa untuk menghormati orang yang lebih tua, tetapi di hadapan Joep orang Belanda yang egaliter ini saya mengubah posisi saya: bukan lagi sebagai orang Jawa, melainkan sebagai teman orang Belanda yang egaliter. Apakah saya kehilangan identitas sebagai orang Jawa? Saya kira tidak, tetapi kejawaan saya itu sudah diperkaya dengan sikap egaliter orang Belanda itu. Apa bukti saya tak kehilangan identitas sebagai orang Jawa? Ya ketika berhadapan dengan orang Jawa lagi, saya masih bisa menerapkan unggah-ungguh.

Dengan demikian, identitas orang terhubung dengan apa yang secara fisik dihadapinya dan bagaimana orang menyikapi hubungan itu. Conditionings dan positionings menentukan identitas seseorang dan itu berarti identitas orang bersifat dinamis. Meskipun saya meyakini diri sebagai ‘anak Allah’, identitas ‘anak Allah’ itu setiap saat ditantang kenyataan hidup sehingga pertanyaan takkan berhenti: ‘anak Allah’ yang bagaimana? Pun kalau orang merasa diri sebagai ‘orang Jawa’, pada setiap saat akan dipersoalkan: orang Jawa yang bagaimana?

Bisa dikatakan bahwa tidak ada ‘anak Allah’ murni atau ‘orang Jawa’ murni. Maka tak perlu percaya pada ilusi penegakan agama murni. Tak ada agama murni. Semuanya dalam relasi, entah sebagai oposisi atau koalisi. Di sini diasumsikan suatu polyphonic self, dialogical self. Yang didialogkan adalah aneka conditionings dan positionings tadi. Itu mengapa pengenalan diri seseorang adalah proses tak kunjung usai dan perubahan jadi suatu keniscayaan justru karena dialogical self tadi. Apakah perubahan ini membuat orang jadi plin-plan? Bisa jadi. Kapan?