Metafisika Soto Pisah

Halaman lalu menyisakan pertanyaan apa yang memungkinkan seluruh fungsi tubuh, termasuk otak manusia itu berjalan; apa yang mengadakan proses fisik berlangsung. Apakah itu Tuhan? Jawabannya: bukan begitu. Kurang kerjaan amat si Tuhan ini dari waktu ke waktu kerjanya ngurusi milyaran fisik orang supaya gak ngadat? Selain itu, jawaban bahwa yang mengadakan proses fisik berlangsung itu Tuhan justru menyangkal adanya kebebasan manusia karena Tuhan mengambil alih pengadaan proses itu. Manusia murni jadi wayang dan dikendalikan Tuhan sebagai dalangnya.

Untuk perlahan-lahan mengertinya, mari kita lihat bagaimana penjual nasi soto bertanya kepada pembelinya: campur atau pisah. Maksudnya tentu nasinya dicampur dengan sotonya atau dipisah [Kalau pisah pun, tentu tak berarti sotonya di warung sini dan nasinya di warung sebelah atau di luar kota]. Pokoknya, nasi soto itu disajikan dalam dua modus: sudah bercampur atau masih berpisah. Keduanya adalah menu nasi soto. Entah yang mencampurkan nasi soto itu penjual atau pembeli, tidak memengaruhi kenyataan bahwa nasi soto itu tidak mengadakan dirinya sendiri. Nasi soto yang fisik ini diadakan oleh yang mengatasi fisik nasi soto itu: penjual atau pembeli.

Bukankah si penjual dan si pembeli itu ya fisik juga? Betul. Justru itulah yang hendak dijelaskan: juga pada penjual dan pembeli yang fisik itu terdapatlah sesuatu yang nonfisik, yang mengadakannya, yang mengatasi yang fisik itu. Maka dikenal istilah metafisika. Dengan istilah ini tidak dimaksudkan pertama-tama soal supranatural atau hal-hal berkenaan makhluk halus yang jadi konsumsi produsen film horor. Saya kembali kepada agenda pada halaman sebelumnya: untuk semakin mengenal diri, tahu diri, bukan untuk mengobjekkan aneka hal yang biasa dipakai untuk acara entertainment.

Masih belum ngeh kan maksudnya apa? Haiya, itu sebetulnya pertanyaan yang muncul karena penulisnya sendiri belum ngeh apakah sudah memberi penjelasan dengan baik. Maka bisa jadi dalam rangkaian tulisan ini nanti akan muncul parafrase-parafrase; sudah dibahas tapi diulang lagi pembahasannya dengan perspektif yang berbeda, semata supaya penulisnya yakin bahwa yang dimaksudkannya benar-benar sampai kepada pembaca. 

Nah, mari kita bertanya lagi: apakah sesuatu yang nonfisik pada si penjual dan pembeli itu adalah Tuhan? Jawabannya lebih tegas: bukan! Baik pada si penjual dan pembeli ada instansi yang mengatasi ketubuhan mereka. Apakah instansi itu? Itulah identitas diri baik si penjual maupun pembeli. Masing-masing orang yang fisik itu ‘tersembunyilah’ identitas khas yang oleh masing-masing subjek itu disebut sebagai ‘aku’, ‘saya’, ‘I’, ‘Io’, ‘Ich’, ‘kula’, dan sebagainya. Jadi, kalau omong soal metafisika, tak usah buru-buru loading dalam omongan soal Tuhan, tuyul, pengabdi setan, dan sejenisnya.

Instansi yang disebut ‘aku’ tadi sudah memuat sesuatu yang metafisik sifatnya. ‘Aku’ bersifat transenden juga. Transenden maksudnya mengatasi, melampaui, melewati apa yang fisik. Akan tetapi, meskipun mengatasi yang fisik, ‘aku’ seseorang itu tak pernah terlepas dari fisiknya. Identitas ‘aku’ seseorang itu sangat erat terkait dengan dimensi fisik. Ini berbeda dari identitas Tuhan yang sepenuhnya transenden sehingga orang senantiasa luput untuk menangkap-Nya. Tapi ini nanti akan dibahas pada halaman lain.

Pada halaman ini cukuplah dimengerti bahwa dalam diri setiap orang terdapatlah instansi yang bersifat transenden, yang bukan Tuhan, yang senantiasa terkait dengan dimensi fisik, dan dengan demikian, memiliki unsur historis yang terikat ruang dan waktu.