Misi Acak Adut

Di akhir halaman lalu dipertanyakan apakah conditionings dan positionings orang itu membuatnya jadi plin-plan. Sekadar parafrase untuk uraian sebelumnya, saya gambarkan bagan sederhana sebagai berikut:

Maksud arah panah berwarna oranye ialah conditionings dari luar yang memengaruhi identitas ‘aku’. Tentu ‘aku’ ini juga termasuk ‘aku’ yang lain alias conditionings yang dialami orang lain. Anggaplah yang di kanan adalah ‘aku’ orang lain. Kedua conditioned ‘aku’ itu kemudian, karena perjumpaan, masuk dalam identitas ‘saya’ yang sekarang ini. Itulah maksud arah panah berwarna merah. Apa outputnya? Identitas apa yang ditongolkan oleh si ‘saya’?

Itu bergantung pada positionings yang diambil seseorang. Jangan lupa, ‘aku’ tadi tentu tidak hanya dua. Ada banyak conditioned ‘aku’ yang memberi pilihan bagi ‘saya’ untuk menentukan positioning dan itulah yang akan menunjukkan identitas seseorang. Saya hendak menyederhanakan positionings itu dalam tiga kategori saja.

  • SUBMISSIVE

Positioning ‘saya’ mutlak memenangkan ‘aku’ yang sebelah kanan. Apa saja kata orang diterima mentah-mentah, setengah matang pun tidak. Motifnya bisa macam-macam: alasan ekonomis, menyenangkan orang lain (dibungkus dengan kata berbakti atau membahagiakan orang lain), malas berpikir, tak mau bertanggung jawab, dan sebagainya. Submissive positioning inilah yang membuat orang jadi galau setiap saat berjumpa dengan orang lain yang berbeda dan kegalauannya berujung pada pilihan plin-plan: ésuk dhêlé, soré témpé, bêngi bosok… Ketemu orang Kristen kepikiran untuk beragama Kristen, dengar dakwah ustadz yang berapi-api kepikiran untuk beragama Islam, ketemu biksu bijak nan penuh kedamaian kepikiran untuk beragama Buddha, dan seterusnya.

  • AGGRESSIVE-EXCLUSIVE

Kebalikan dari submissive positioning, posisi ‘saya’ di sini mutlak memenangkan ‘aku’ yang sebelah kiri. Orang tak menyadari dirinya sebagai conditioned ‘aku’. Conditionings dalam ‘aku’ diterimanya sebagai kenyataan sebenarnya. Ia menganggap agama Allah itu nyata dan itu adalah agamanya sendiri, lupa bahwa agama itu diperolehnya dari conditionings orang lain. Maka, ‘saya’ yang agrressive-exclusive ini bisa juga sampai jadi radikalis seakan-akan tak ada lagi ‘aku’ yang lain di dunia ini. Paradigmanya selalu berbau kolonial (meskipun secara verbal mengatakan antikolonial, antineolib dan semacamnya): yang lain, yang berbeda mesti ditaklukkan. Dengan positionings macam begini, ‘saya’ bukan pribadi galau, melainkan pribadi monster yang siap jadi predator, apa pun landasannya: politik, ekonomi, atau agama.

  • INTEGRATIVE

Pada model ini, ‘saya’ sadar sebagai diri yang terkondisikan (conditioned self) dan berhadapan dengan pribadi lain yang juga terkondisikan. Maka, posisi yang dipilih ‘saya’ ini akan bergantung pada bagaimana dia meramu, menganalisis, membuat sintesis, mengevaluasi, dan menemukan jalan keluar dari tegangan antara conditioned ‘aku’ dan conditioned ‘aku’ yang lain. Model ini hanya mungkin dimiliki oleh pribadi yang dewasa, yang seimbang, dan sangat realistis dengan kehidupan. Ia bukan tipe pribadi bersumbu pendek, bahkan meskipun terus menerus difitnah; ia tetap bisa menatap fakta, data, kebenaran yang tak bisa dipermainkan oleh tendensi submissive maupun exclusive.

Perbedaan dua tipe pertama dari tipe ketiga terletak pada kesadarannya. Baik submissive maupun exclusive positionings tidak memuat kesadaran. Maka, kombinasi dua positionings ini bisa sangat membahayakan. Bayangkanlah orang submissive berjumpa dengan orang exclusive: yang submissive akan jadi mangsa empuk bagi yang exclusive, bahkan diperalat untuk menjalankan misi acak adut: penyebaran agama Allah! Weh, kok isa penyebaran agama Allah disebut acak adut? Ngawur tenan ik!

Selanjutnya, klik Agama Amburadul