Agama Amburadul

Halaman lalu ditutup dengan kritik terhadap penyebaran agama Allah. Pada halaman ini akan dijelaskan ilusi agama Allah, yang sudah disinggung juga dalam posting Agama Heuristik, dengan tinjauan historis. Apa sih sebetulnya yang disebut agama a.k.a. religion?

Dalam bahasa Latin ada kata religāre (mengikat kembali), tetapi saya cenderung menghubungkan religion dengan relegere [baca: réléjèrè] (membaca kembali). Dulunya kata religio [baca: rélijio] adalah istilah bangsa Romawi yang menunjuk pada perangkat praktik leluhur yang dikembangkan dan ditularkan antargenerasi. Jadi, ini soal penerusan praktik leluhur atau tradisi. Tak ada embel-embel apakah tradisi itu baik atau buruk.

Ketika kekristenan naik panggung, diambil jugalah religio dari khazanah Romawi. Celakanya, religio diberi kualifikasi: benar dan salah. Kekristenan mengklaim sebagai true religio dan praktik leluhur yang gak cocok dengan kekristenan dinyatakan sesat. Begitulah seterusnya sampai pada abad ke-19 konsep Kristiani mengenai religion dikaji secara akademis sebagai science of religion a.k.a. Religionswissenschaft. Religion di sini sudah disusupi konsep dan nilai Kristiani serta modernitas Barat yang dianggap relevan secara universal sepanjang segala abad, amin. 

Apakah dengan begitu religion ini bikinan para sarjana Barat belaka? Tidak, karena orang dari budaya lain juga kemudian memakai kata religion itu tetapi dengan praktik yang berbeda. Ini terjadi pada masa kolonial. Konsep religion yang berbau Kristen itu dipakai sebagai frame untuk melihat praktik religius di penjuru dunia. Tak mengherankan, lalu muncul kategori ‘Kristen’, ‘Yahudi’, ‘Kaum Muhammad’, dan…. kafir [alih-alih other religions]! Pandangan itu bertahan berabad-abad sampai pada abad ke-19 muncul istilah world religions, dengan asumsi bahwa ada kesamaan esensial antara Kristen, Islam, dan Yahudi sebagai religion. Dalam interaksi world religions dengan budaya di Asia, tergabunglah Hindu, Buddha, Sikh, Tao, dan sebagainya, yang dianggap memiliki karakter seperti Abrahamic religions tadi. 

Selain dari world religions itu disebut apa? Ya local religions, yang dianggap primitif atau animis. Jelas, religion jadi alat klasifikasi yang lebih terkait dengan konstruksi sosial dan pelanggengan batas praktik-praktik religius tadi daripada hakikat (mengapa) orang-orang melakukan praktik religius tertentu. Jadi, religion itu sebetulnya cuma suatu kategori atau  frame, bukan? Celakanya, kategori ini memperkosa kenyataan seakan-akan ada cuma satu Islam, satu Hindu, satu Katolik, dan seterusnya. Hindu Bali, misalnya, tak sama dengan Hindu India, sementara Hindu India di selatan tidak juga identik dengan Hindu India di utara.

Di Indonesia tak kalah runyamnya. Orang mengira ‘agama’ adalah terjemahan langsung dari religion, tetapi sebenarnya ‘agama’ adalah kombinasi lembut antara kata Sansekerta, pandangan Kristen tentang world religion dan paham Islam mengenai ciri-ciri agama: wahyu ilahi yang diterima seorang nabi dalam Kitab Suci, sistem hukum bagi umat pemeluk, ibadat, dan kepercayaan kepada satu dan hanya satu Allah. Yang tidak klop dengan itu, tidak bisa disebut agama! Tambah runyam lagi, kategori agama ini dimasukkan ke dalam ranah politik kekuasaan. 

Yang menderita tentu kaum minoritas: sudah praktik kepercayaannya tak diakui sebagai agama, dipersulit pula status penghayat kepercayaan di KTP. Tidakkah ada arogansi ‘agama’ di sini? Bukankah itu diskriminasi ‘agama’ terhadap penghayatan kepercayaan? Padahal, katanya agama mengajarkan orang menyembah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang; mungkinkah menyembah Tuhan dengan menginjak-injak martabat orang lain, mengafirkan orang yang tradisinya berbeda? Ya mungkin, dalam agama amburadul!