Agama Heuristik

Ini sharing lagi saja ya berkenaan dengan guru dalam teks hari ini yang suka menjelaskan sesuatu dengan cerita atau perumpamaan. Bukan cerita atau perumpamaannya yang penting, melainkan dunia hidup yang hendak ditunjuk oleh cerita atau perumpamaan itulah yang penting. Ceritanya sendiri jadi sampingan, bukan kenyataan yang hendak disasar. Perumpamaan itu menuntun pada dunia sebenarnya yang hendak disampaikan.

Maka, teman-teman sekelas saya itu biasanya mudah melontarkan pertanyaan “Did you say it heuristically?” atau pernyataan “It is indeed heuristic”. Ini biasanya disampaikan ketika seorang ragu terhadap niat teman untuk mentraktir atau ketika ia hendak membatalkan apa yang baru saja ditawarkannya. Itu terjadi setelah dosen di kelas kami secara khusus menjelaskan istilah heuristic itu dan mata kami terbuka bahwa agama itu hanyalah istilah heuristik, bukan kenyataan sebenarnya, alias, agama itu sebetulnya gak ada. Itu cuman bikinan Barat! Katanya… Ya karena pernyataan itu sendiri bersifat heuristik: Timur Barat itu rak yo bikinan entah siapa gitu kan?

Lha kalau semua atau apa aja dilabeli heuristik njuk kenyataan yang sebenarnya itu apa dong?

Memang repot. Dalam perumpamaan hari ini kenyataan yang sebenarnya itu ialah rahasia Kerajaan Allah! Bener-bener repot wong rahasia! Siapa yang bisa mengetahui rahasia Kerajaan Allah itu? Di situ sih dibilang ‘yang setelah mendengar firman, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan’. Nah, ‘firman’ itu kan gak bisa disamakan begitu saja dengan ayat Kitab Suci. Ayat Kitab Suci itu juga bersifat heuristik; setiap kali orang mesti siap menafsir ulang terus menerus supaya ketemu ‘firman’ yang sesungguhnya.

Itu mengapa agama, yang menampung Kitab Suci, jadi heuristik. Agama sendiri gak ada. Itu bikinan sekelompok orang yang punya power supaya memudahkan pelaksanaan powernya. Coba lihat bagaimana susahnya orang di negeri ini yang tulus hendak menemukan ‘firman’ tadi tetapi tak bisa berafiliasi pada agama tertentu. Silakan pertimbangkan kenyataan bahwa label agama itu memukul rata setiap orang seolah-olah jika si A Katolik, ia tentu sama dengan si B yang Katolik juga, padahal yang satu sangat konservatif dan satunya lagi begitu progresif. Itu berlaku untuk semua agama.

Konon Paus Fransiskus mengubah beberapa pokok dalam hukum Gereja Katolik yang memberi kewenangan pada Gereja setempat (negara) untuk menentukan sendiri mana yang paling tepat bagi penghayatan iman di tempat masing-masing. Pelaksanaannya ya mboh, bisa jadi muncul perseteruan antara yang dianggap kolot dan yang dianggap anarkis! Itu konsekuensi logis bagi mereka yang tak mengerti bahwa agama adalah istilah heuristik.

Sudah semestinya orang beragama sadar supaya kotak agamanya tak membuat pemisahan, tetapi pengesahan supaya bersama kotak agama lain orang bisa menemukan ‘firman’ tadi. Maka, agama bikinan manusia itu tak perlu dihapuskan juga, tetapi dimampukan sedemikian rupa sehingga orang-orangnya, meskipun labelnya beda (maka tak perlu sok halus mengatakan semua agama sama saja), bisa mendekati ‘firman’ tadi.

Ya Allah, mohon rahmat-Mu supaya dengan agama yang kami hidupi ini, kami semakin terbantu untuk menangkap firman suci-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXIV A/1
Peringatan Wajib S. Padre Pio
23 September 2017

1Tim 6,13-16
Luk 8,4-15

Sabtu Biasa XXIV C/2 2016: Iman Copy Paste
Sabtu Biasa XXIV B/1 2015: Agama Yang Lebih Baik? Gak Ada!
Sabtu Biasa XXIV A/2 2014: Receptive Heart

2 replies

  1. Membaca postingan Romo ini makin mengusik isi pikiran saya. Jangan-jangan cara hidup (norma, aturan dan tetek bengeknya) itu buatan manusia belaka. Manusia tidak tahu bagaimana “caranya hidup”. Mohon pencerahannya Mo. Terima kasih.

    Like

    • Memang segala bentuk aturan sosial itu adalah buatan manusia; Tuhan tak pernah membuatnya, sekurang-kurangnya tak pernah secara langsung, selalu dengan mediasi atau perantaraan. Itu mengapa orang perlu terus menerus mencocok-cocokkan, mengkritisi, aturan mana yang kiranya sungguh-sungguh klop dengan kehendak yang Transenden itu. Norma, dng demikian, juga bersifat heuristik, membantu orang supaya menemukan Norma sesungguhnya. Pe er yang tak kunjung usai.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s