Iman Copy Paste

Barangkali kemudahan akses informasi berbanding lurus dengan kesulitan pengelolaannya. Saya tak begitu yakin dengan pernyataan itu, tetapi menilik perkembangan teknologi informasi belakangan ini dan bagaimana mahasiswa mengelolanya, saya kira pernyataan itu gak keliru-keliru amat. Dalam waktu yang relatif singkat, seorang mahasiswa yang terjebak aneka deadline bisa melahirkan sebuah makalah agak panjang dengan teknik copy-paste dan ternyata pada saat diuji, ia tak bisa menjelaskan hubungan antarbagian yang dia copy-paste itu.

Seorang teman Fesbuk membagikan keprihatinannya: Pelajaran Agama sekarang hanya berisi aturan halal haram dan hafalan tanpa pengenalan siapa itu Tuhan.” Memang, orang bisa disentor dengan aneka macam aturan, informasi, pengetahuan, teknik, metode, aneka cara sukses, dan sebagainya, yang bisa diakses atas jasa baik teknologi informasi, tetapi itu tidak otomatis mengantarnya pada suatu pengenalan akan Allah. Ini pasti bukan cuma persoalan agama anu atau agama inu. Ini adalah problem semua agama sampah, yang sudah dibahas kemarin.

Sejalan dengan kemudahan akses informasi manusia generasi sekarang ini, mudah pula orang merasa dibombardir oleh aneka kata dan gambar, aneka ideologi dan imajinasi, aneka radikalisme dan relativisme. Bagaimana menerima Sabda yang terus menerus disemaikan dalam hati orang yang juga senantiasa diserbu oleh aneka informasi itu? Orang dijejali oleh kata-kata [juga oleh blog ini loh!], terobsesi kata-kata, diinvasi oleh kata-kata, tetapi seluruh informasi yang diterimanya itu tak mengubah hidupnya. Cuma satu yang bisa mengubah hidup orang: kata-kata yang disemaikan Allah dalam hatinya.

Lha ya kan justru itu masalahnya, Moooo! Bagaimana kita bisa benar-benar membuat distingsi ini kata-kata Allah atau kata-kata kosong dari dunia informatika? Janjane ya gak usah susah-susah. Sabda Allah itu mencari celahnya sendiri di antara himpitan informasi masif. Mungkin problemnya ada pada daya ingat saja, padahal makin tua makin gampang lupa, haha….

Kita tahu, ada jenis pertarungan antara ingatan dan amnesia terhadap hidup kita sendiri. Coba tanya saja pada diri sendiri: masih ingat bacaan Kitab Suci minggu lalu? Saya pun tidak, mesti buka kalender liturgi dulu atau klak-klik-klak-klik posting blog ini tujuh kali ke posting sebelumnya! Ya ya ya, saya kira memang problem pokoknya bukan pada daya ingat, melainkan pada daya komprehensi dan internalisasi atas Sabda Allah dalam hidup konkret. Copy-paste bisa jadi merupakan indikator minimnya upaya komprehensi atau pemahaman terhadap substansi persoalan. Galau berkepanjangan bisa jadi merupakan indikator rendahnya daya internalisasi Sabda Allah.

Itulah yang hendak disodorkan perumpamaan hari ini: ini bukan soal penilaian baik buruknya seseorang, melainkan soal bagaimana ia mendengar Sabda, menyimpan atau mengolahnya dalam hati, dan mengeluarkan buah olahan itu dalam ketekunan. Kita tak sedang bicara aturan agama, kita bicara soal relasi personal manusia dengan Tuhannya dan bagaimana buah relasi personal itu tampak dalam hidup sehari-harinya: distresseddisordered, banyak distraksi, murung, cemburu, cemberut, bersungut-sungut dalam kenyamanan, atau malah ceria, penuh harap, gembira, percaya dalam kesusahan?

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu mengatasi distraksi teknologi untuk senantiasa akrab dengan Sabda-Mu. Amin.


SABTU BIASA XXIV
17 September 2016

1Kor 15,35-37.42-49
Luk 8,4-15

Posting Sabtu Biasa XXIV B/1 Tahun 2015: Agama Yang Lebih Baik?
Posting Sabtu Biasa XXIV Tahun 2014: Receptive Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s