Iman Aman Amin

Ini saya cuma kulakan alias share apa yang diomongkan ahli yang hidup di Tanah Suci sana. Sebagian diomongkan juga oleh ahli lain, tetapi poin saya bukan ahli-ahli itu dan bukan juga saya hendak mencari otoritas atau legitimasi untuk menyampaikan pokok-pokok berikut ini. Saya merasa ini ada gunanya untuk diketahui dan dicamkeun.

Perumpamaan hari ini juga perumpamaan yang terkenal [mana sih perumpamaan yang gak terkenal?]: gak ada orang yang bisa mengabdi dua tuan. Mesti milih: ini atau itu. Itulah komitmen. Kalau maunya semua, ya kemaruk alias rakus [Wah, tersinggung aku!]. Cuman, oleh orang awam teks ini bisa ditangkap secara naif sebagai kontraposisi antara Tuhan dan harta kekayaan atau duit. Kata ‘mamon’ njuk diidentikkan dengan harta kekayaan itu. Akan tetapi, sesederhana dan senaif itukah pola pikir Yesus dan orang-orang bijak zaman dulu di tanah Israel? Sepertinya tidak.

Pagi tadi saya dikotbahi seorang frater, calon imam/pastor, dengan modal bacaan hari ini. Maklum, memang hari ini tugasnya berkotbah. Katanya, teks hari ini tidak bicara oposisi antara Allah dan kekayaan atau duit. Yang dikritik sebagai oposan Allah bukanlah harta kekayaan, melainkan sikap orang terhadap harta kekayaan itu, yang bisa ‘mengubah’ harta jadi berhala. Saya manggut-manggut dan teringat beberapa hal yang saya dengar dari orang yang hidup di Tanah Suci sana.

Dia omong soal kemiskinan biblis atau alkitabiah yang disodorkan Lukas. Pijakannya adalah ayat terakhir teks hari ini: Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Dalam bahasa Aram dulu, yang masih merupakan bahasa lisan, dikatakan ‘mamona’ dan kata ini terbawa juga ke dalam bahasa Yunani: μαμωνᾷ. Kalau saya tak salah tangkap atas apa yang saya dengar, kata ini dalam bahasa Italia dimengerti dengan dua pokok. Yang pertama adalah kekayaannya sendiri. Yang kedua adalah pengkultusan kekayaan itu. Nah, pokok kedua inilah yang sepertinya klop dengan diskursus hari ini.

Akar kata ‘mamona’ ini, entah dalam bahasa Aram atau Ibrani, adalah ‘aman’, yang darinya juga bisa diturunkan kata ’emuna’ yang dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan kata ‘iman’. Tak mengherankan, iman itu memuat pengertian ‘kepercayaan’ dan ‘keamanan’. Dengan demikian, ‘mamona’ memang bukan cuma soal harta kekayaan, melainkan juga soal menaruh kepercayaan dan rasa aman kepada harta kekayaan itu. Itu mengapa Yesus berkata keras: mau pilih Allah atau mau memposisikan harta kekayaan itu sebagai Allah! Mau menaruh kepercayaan dan rasa aman kepada Allah atau kepada harta kekayaan?

Harta kekayaan (dan yang diturunkan daripadanya) tak pernah dan takkan pernah memberi kegembiraan yang langgeng selama harta kekayaan itu sendiri tidak kekal sifatnya. Kegembiraan kekal disediakan oleh harta kekayaan yang abadi juga sifatnya.

Teorinya begitu, tetapi dalam hal ini lebih banyak orang mau menciptakan teori sendiri. Alih-alih bersolidaritas dengan orang kecil, ia menaruh kepercayaan diri dan identitasnya pada merk sepatu, tas, jenis mobil, perabot rumah tangga, dan sejenisnya. Alih-alih peduli pada persoalan keadilan sosial, mereka sibuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Orang tak happy dengan dirinya sendiri dan bersembunyi di balik jabatan, status, harta bergerak dan tak bergeraknya, masa lalu, dan sebagainya.

Tuhan, mohon rahmat supaya dalam iman kepada-Mu kami aman sejati. Amin.


MINGGU BIASA XXV C/2
18 September 2016

Am 8,4-7
1Tim 2,1-8
Luk 16,1-13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s