Koruptor, Motivator, Provokator

KMP sudah populer sejak pilpres kali lalu, tetapi atribut koruptor, motivator, dan provokator sudah dikenal sebelumnya. Sekarang ini yang marak di TV adalah berita penjaringan koruptor, dimeriahkan oleh kesibukan seorang motivator menghandle problem privatnya yang jadi konsumsi publik, dan di sela-sela meriahnya berita media, saya sempat baca judul berita seorang gubernur yang menuding seseorang sebagai provokator. Tentu tiga karakter itu punya agendanya masing-masing dan pemberitaan media mengenai K(oruptor) M(otivator) P(rovokator) itu tentu juga punya kepentingan yang bisa berbeda.

Berita KMP ini sebetulnya jadi undangan bagi umat beriman untuk menguak Kebenaran yang senantiasa ingin dinyatakan dalam hidup manusia. Orang kepo mengenai versi mana yang benar, orang penasaran siapa meracun siapa, orang meragukan profesionalitas seorang tokoh, orang terpecah belah saling mengklaim kehebatan tokoh yang dibelanya, dan seterusnya. Dalam dinamika pencarian kebenaran itu terdapat dorongan dasariah manusia untuk mengungkap misteri Kebenaran Ilahi. Pada beberapa ayat sebelum teks yang dikutip hari ini memang dikatakan bahwa pada orang sudah diberi pengetahuan akan misteri Allah (dan keyakinan akan hal ini dengan sendirinya menangkal paham deisme).

Teks hari ini menerangi lebih jauh: kunci untuk membuka misteri dan rahasia ilahi pada pengetahuan iman itu adalah mendengarkan Sabda [bosen bosen deh lu dengan frase ini, hahaha]. Allah yang Mahakuasa itu tidak menutup diri seolah-olah ja’im biar tak bisa diketahui oleh manusia. Problemnya tidak terletak pada sosok Allah yang ja’im, melainkan pada manusia yang tidak memanfaatkan modal pengetahuannya. 

Mendengarkan Sabda itu lebih banyak bergantung pada kapasitas untuk membuka diri pada realitas yang lebih luas daripada cakrawala fisik yang cupet, pada realitas tersembunyi yang belum dijamah oleh pengetahuan: Tak ada sesuatu yang tersembunyi yang tak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Tinggal bergantung pada bagaimana orang mengaktivasi pendengarannya (yang pasti bukan pendengaran telinga fisik) secara integral dan konsekuen.

Apa lacur? Yang kerap terjadi ialah orang mengobjekkan Tuhan sehingga kehendak-Nya benar-benar dikira sebagai suatu pengumuman yang tinggal ditunggu saja waktu penyampaiannya, entah kapan, sebelum atau sesudah kiamat! Orang, meskipun mengaku beriman, tidak tekun menyelami kehendak Allah itu melalui pilihan-pilihan yang diambilnya (sendiri). Akibatnya, pilihannya ngasal, tanpa orientasi, dan ujung-ujungnya adalah menyalahkan Tuhannya atau secara naif memegang keyakinan bahwa rencana Tuhan indah baginya, sementara hidupnya sendiri sampai kiamat merana.

Mungkin begitulah nasib koruptor, motivator, dan provokator, yang dalam kadar berbeda menclok di hati setiap orang.

Tuhan, semoga kami jujur senantiasa untuk mendengarkan Sabda-Mu, lebih daripada menuruti kepentingan cinta diri kami. Amin.


SENIN BIASA XXV
19 September 2016

Ams 3,27-34
Luk 8,16-18

Posting Senin Biasa XXV Tahun 2014: Sorry, I have no time to pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s