Lingkaran Syaiton

Sudah jamak bahwa mahasiswa tidak enjoy untuk kuliah yang tidak cocok dengan keinginannya demi ‘bakti kepada orang tua’. Ini suatu nilai yang dijunjung tinggi dalam (semua) agama dan memang bukan sesuatu yang pada dirinya buruk. Sudah sewajarnya seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Problemnya, kalau semua orang itu konsisten dan konsekuen dan konkruen [apa lagi ya yang akhirannya -en?], seluruh kekacauan hidup sekarang ini adalah ulah Adam dan Hawa. Kenapa? Ya karena kita kan cuma hidup atas dasar bakti kepada orang tua. Orang tua kita hidup atas dasar bakti kepada orang tuanya. Begitu seterusnya sampai ujungnya Adam dan Hawa.

Kita tahu, Adam dan Hawa adalah simbol dalam agama untuk membahasakan manusia pertama dan kalau kita cuma mendasarkan hidup pada keutamaan bakti kepada orang tua itu, Adam dan Hawalah biang keladi semua kekacauan dunia ini. Memang sih, dalam agama Katolik diajarkan Adam dan Hawa itu menularkan atau menurunkan ‘dosa asal’, tetapi jelas bukan dalam arti bahwa dosa Adam dan Hawa itu diturunkan secara genetis melalui struktur kromosom. Lucu dan bikin gemes aja dong kalau kriteria dosa (yang nonfisik) itu dilekatkan pada yang fisik. TV di negeri tercinta ini memungkinkan perempuan berbikini di pantai diblur (dan bukan pria yang cuma bercelana dalam) sampai pantainya penuh ubur-ubur [mungkin ada spesies baru ubur-ubur yang bersliweran di daratan]!

Dosa asal justru merupakan manifestasi pelanggengan struktur lingkaran syaiton, termasuk ‘bakti kepada orang tua’ yang diperlakukan sebagai hukum utama yang mengatasi cinta kepada Allah. Jika ‘bakti kepada orang tua’ dimutlakkan, tidak dilihat sebagai sarana bakti kepada Allah, kasusnya ya dosa Adam dan Hawa itu. Kita muter-muter aja di level manusiawi, komplet dengan perseteruannya, dan lingkaran itu takkan pernah terputus. Bagaimana lingkaran syaiton itu bisa diputus? Ya dengan menerima otoritas di luar lingkaran syaiton itu toh! Apa itu? Apa lagi kalau bukan Sabda Allah? Bagi orang Katolik, Sabda Allah itu Yesus Kristus, maka baptisan diterima sebagai pemutus dosa asal tadi, dosa yang terstruktur muter-muter dalam ranah manusiawi.

Langgengnya lingkaran syaiton dimungkinkan oleh struktur kekuasaan hirarkis yang menempatkan Adam dan Hawa di pucuk pimpinan, dari merekalah seluruh bangsa manusia berasal, dan manusia sekarang ini dideterminasikan tunduk kepada pendahulu-pendahulunya yang membangun kultur kekuasaan tertentu. Maka, bagaimana Sabda Allah memutus rantai syaiton itu kelihatan juga dalam teks bacaan pertama: dengarlah suara, rintihan, derita para korban. Orang beriman mampu mengubah perspektifnya dari kacamata kuasa yang selalu merasa benar sendiri ke kacamata jelata yang lemah nan rapuh.

Rupanya, ikatan darah memang rapuh dan bisa jadi bulan-bulanan media karena orang-orang dalam ikatan itu bisa jadi memelihara perspektif kuasa, gengsi atau harga diri. Kerapuhan ini tak tumbuh justru dalam ikatan Sabda Allah. Maksudnya, kalau yang menyatukan, yang jadi sasaran bakti hidup itu bukan lagi ikatan darah, melainkan Sabda Allah, bangsa manusia justru mendapat kekuatan yang autentik.

Tuhan, semoga kami lebih mendengarkan Sabda-Mu daripada conditionings yang kami terima dari budaya atau agama kami sendiri. Amin.


SELASA BIASA XXV C/2
Pesta Wajib S. Andreas Kim Taegon dkk.
20 September 2016

Ams 21,1-6.10-13
Luk 8,19-21

Posting Selasa Biasa XXV B/1 Tahun 2015: Masalah Keluarga Yesus
Posting Selasa Biasa XXV Tahun 2014: Otak dalam Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s