Byur Buang ke Laut

Ini cerita yang sekarang tentu sudah beredar di dunia maya dengan segala modifikasinya. Saya menceritakannya tahun 2002 di Yogyakarta, dengan ungkapan lu-gue lu-gue. Seorang ibu muda nan jelita dengan bayinya yang masih menyusui mengantarkan suaminya yang bekerja di sebuah cruise liner. Ini keluarga kaya dan si ibu muda sendiri punya beberapa perusahaan. Entah bagaimana kejadiannya, saya tak melihatnya langsung, bayi yang digendongnya terjatuh nyemplung ke laut beberapa saat setelah kapal bergerak menjauhi daratan. Kok bisa ya? Ya bisalah, namanya juga cerita.

Byur… dan semua orang yang ada di situ berteriak. Sang ibu muda paling panik, tetapi tak kuasa berbuat apa-apa selain berteriak minta tolong supaya ada yang menyelamatkan bayinya. Kejadiannya begitu cepat dan sang ibu muda itu langsung meneriakkan nazarnya,”Siapapun yang menyelamatkan bayi saya, akan saya berikan tabungan yang kami miliki!” Tak ada yang terpanggil untuk bergerak terjun ke laut, sepuluh meter di bawah sana. “Kalau begitu, yang menyelamatkan bayi saya, akan saya berikan semua perusahaan yang saya miliki,” lanjut mahmud itu, tetapi seperti tadi, orang-orang di dekatnya cuma bisa saling pandang, tak tahu mesti berbuat apa.

Jalan terakhir ditempuh mahmud, dengan lantang ia berkata,”Baiklah, bagi yang menyelamatkan bayi saya, kalau laki-laki saya bersedia jadi istri sementaranya dan kalau perempuan….” BYUUUURRRR….. tiba-tiba terdengar ada orang yang terjun ke laut. Sang mahmud nan kepo merasa lega tetapi bersama orang di situ melongok ke bawah untuk mengetahuai siapa kiranya yang membantunya menyelamatkan bayi itu. Laki-laki!!! Sial, kakek-kakek!!!

Singkat cerita, sang kakek berhasil mengembalikan bayi yang kritis itu kepada ibunya dan sang mahmud segera melancarkan tawarannya supaya si kakek tidak meminta opsi ketiga. “Kek boleh minta nomor rekeningnya gak, segera saya transfer seluruh tabungan kami.” Si kakek menggeleng-gelengkan kepalanya,”Gak mau!” “Ya sudah, Kek, besok kita urus serah terima perusahaan ya. Kakek datang ke alamat ini.” Si kakek menggeleng lagi,”Gak mau itu!” Dan sang mahmud merasa gimana gitu, lalu dengan lunglai pasrah,”Baiklah, Kek. Kalau memang Kakek mau urus perkawinan kita, saya siap.”

Akan tetapi, lelaki tua itu juga menggeleng-gelengkan kepalanya dan si mahmud bingung. Mosok dia mau minta semua-muanya?!!! “Kok begitu, Kek? Saya cuma bisa memberi salah satu dari tiga hal itu. Kakek ini maunya apa?” Dengan cepat sang kakek menyahut,”Gue cuman mau tau siapa tadi nyang jorokin gue ke laut!

Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu. Jalan pikiranmu bukanlah jalan pikiran-Ku. Itulah yang dinyatakan dalam teks bacaan pertama, tetapi juga yang dalam bacaan ketiga terlihat bagaimana orang-orang yang merasa diri benar, berjasa, bekerja lebih banyak, beragama, takwa, patuh, dan seterusnya itu salah duga. Keadilan Allah melampaui perhitungan manusia, dan dengan demikian, manusia mesti terus menerus mengoreksi perhitungannya sendiri dengan masukan dari siapa saja sehingga semakin menemukan keadilan yang dimaksudkan oleh Allah sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami mampu menangkap keadilan-Mu dalam perjumpaan kami dengan sesama. Amin.


MINGGU BIASA XXV A/1
24 September 2017

Yes 55,6-9
Flp 1,20-24.27
Mat 20,1-16a

Posting Tahun 2014: Apa Enaknya Kerja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s