Interior Knowledge

Semakin interior knowledge seseorang berkembang, semakin ia mampu melihat kenyataan hidup yang diciptakan dalam kebenaran, yang kemarin saya beri kualitas ‘membebaskan‘. Apa itu interior knowledge? Saya tak tahu terjemahannya, tetapi kira-kira pengetahuan yang terhubung dengan hidup batin seseorang. Apakah ini soal kebatinan atau kerohanian? Ya, sejauh Anda menangkap kerohanian seperti dipromosikan dalam posting This is called spirituality. Segera saya tambahkan: ini bukan soal agama meskipun bisa saja dihubungkan dengan agama.

Beberapa tahun lalu dimuat berita mengenai Splow House di Jakarta yang mendapatkan penghargaan arsitektur internasional (mungkin masih bisa dibaca pada link ini) dan saya segera mengasosiasikan pengetahuan arsitektur rumah itu sebagai bagian dari interior knowledge. Kok isa? Ya isalah, namanya juga asosiasi. Perkara asosiasi itu tepat atau tidak, lain soalnya, hahaha.
Kalau Anda hidup di perkampungan padat dan Anda hanya punya tanah 90 meter persegi, tentu Anda tak akan membayangkan rumah yang Anda bangun di atasnya jadi seperti Istana Bogor. Meskipun demikian, kembali lagi ke awal paragraf, kalau Anda punya interior knowledge yang baik, 90 meter persegi itu akan menjawab kebutuhan substansial yang membuat Anda jadi manusia sesungguhnya. Bombastis, tapi gak juga sih karena untuk itu Anda memang mesti memasukkan aneka macam pengetahuan: ekologi, antropologi, sosiologi, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Mungkin Anda tak punya keahlian khusus mengenai itu semua dan barangkali Anda membutuhkan ahli bangunan dan arsitek, yang seyogyanya juga menguasai filsafat yang melandasi aneka macam pengetahuan tadi.

Dengan interior knowledge seperti itu, Anda tidak menjadi ‘lain sendiri’ di perkampungan padat tadi, tetapi juga tidak kehilangan keunikan Anda sendiri. Dengan interior knowledge itu, Anda tahu apa yang memang sungguh Anda butuhkan dan Anda maui, tanpa terombang-ambing oleh godaan atau bahkan ancaman yang menjauhkan diri Anda dari kebenaran hidup. Tanpa interior knowledge, Anda akan akrab dengan aneka hoaks dan mungkin juga rumah, kendaraan, perabot Anda dimiliki atas dasar hoaks dan membuat hidup Anda menjadi ‘seolah-olah’: seakan-akan kaya/miskin, kelihatannya kuat/lemah, tampaknya pintar/bodoh dan seterusnya. Tampaknya sepele, dampaknya tidak: orang tak bisa lagi mengenali kenyataan hidup dan mencampuradukkannya dengan ilusi atau mimpinya sendiri.

Pokok itulah yang juga disodorkan oleh teks hari ini. Orang yang tak punya interior knowledge kehilangan pegangan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang indah dan mana yang buruk. Yang nyata dianggap ilusi, yang ilusi dianggap nyata; yang salah digembar-gemborkan sebagai kebenaran, yang benar dinyinyiri sebagai kesalahan. Terhadap orang-orang seperti ini, saya bisa maklum kalau Anda jengkel atau bahkan marah, tetapi ada baiknya energi kejengkelan dan kemarahan itu lalu dipakai untuk mengasah interior knowledge, menyelisik batin kalau-kalau kita punya bentuk atau wujud lain dari inkonsistensi seperti ditunjukkan mereka yang hobi membolak-balik kenyataan.

Tuhan, ajarilah kami untuk senantiasa peka terhadap gerak batin yang menjauhkan kami dari-Mu. Amin.


SENIN BIASA III C/1
Peringatan Wajib S. Tomas Aquinas
28 Januari 2019

Ibr 9,15.24-28
Mrk 3,22-30

Posting Tahun B/2 2018: Iman Sakti
Posting Tahun A/1 2017: Menista Roh Kudus

Posting Tahun B/1 2015: Ambil Keputusan Brow!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s