Duit Laki

Boleh percaya boleh tidak, terserah alasan suci macam mana yang Anda sodorkan, hidup perkawinan itu sebetulnya ‘cuma’ soal menggabungkan income suami istri dan mengelola bersama pengeluarannya. Entah suami atau istri yang berpenghasilan nol rupiah, atau mungkin dua-duanya berpenghasilan nol rupiah, gak masalah, yang penting keduanya mesti mengelola bersama pengeluaran nol rupiahnya [lumayan loh bisa untuk DP rumah vertikal di Jakarta]. Kalau Anda bicara soal uang laki dan uang perempuan, percayalah, itu bukan sejatinya hidup perkawinan.

Andaikan Anda berpenghasilan 15 juta per bulan dan pasangan Anda juga punya pendapatan 15 juta per bulan, sementara biaya kebutuhan dua anak Anda 10 juta per bulan [buset, anak apa itu ya?], Anda masih punya 20 juta untuk dikelola. Akan tetapi, beda ceritanya kalau Anda sudah membagi kavling: Anda membiayai anak kedua dan bayar listrik dan air, pasangan Anda membiayai anak pertama dan pemeliharaan gedung dan instalasi komunikasi dan kendaraan. Pun jika dengan kavling itu Anda dan pasangan Anda tak pernah kekurangan secara finansial, tak pernah punya hutang luar negeri!

Problemnya tidak terletak pada surplus pendapatan Anda masing-masing, melainkan defisit komunikasi. Masing-masing dari Anda punya dunia sendiri-sendiri seturut jangkauan yang dimungkinkan oleh penghasilan Anda. Oh, kalau begitu, problemnya bukan kavling tadi dong, Rom?
Betul sekali Bapak Ibu Sodara-sodari, akar persoalannya bukan duit laki atau duit perempuannya, melainkan pengelolaan duit laki-perempuan secara komunikatif dan transparan. Jadi, saya juga tidak berpikir soal rekening bersama yang kelihatan romantis, tetapi suami istri tahu persis berapa penghasilan yang mereka dapatkan secara kumulatif dan berapa kebutuhan seluruh keluarga, dana sosial, rekreasi, dan sebagainya. Oleh karena itu, duit laki duit perempuan tidak relevan selain untuk menunjukkan si laki berpenghasilan sekian dan si perempuan sekian karena setelahnya duit itu keluar dalam wujud laki-perempuan. 
Dengan begitu, Anda tak perlu cemas kalau gaji suami Anda 100 juta dan dia mengeluh kurang bayar 80 juta untuk tagihan online [apaan sih, Rom?], karena Anda tahu persis 80 jutanya untuk apa.

Teks bacaan hari ini mengingatkan umat beriman mengenai persaudaraan dengan guru iman. Ini bukan soal bahwa seseorang dibaptis atau disunat atau fasih berbahasa Yunani-Latin atau Arab. Ini bukan soal khatam membaca Kitab Suci, kecuali kalau khatam itu diartikan juga dalam dimensi operasional: Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraku. Itulah yang ditegaskan Guru dari Nazareth. Kalau orang mau bersaudara dengan guru iman, ia tak perlu risau bahwa darah guru iman tak mengalir di tubuhnya sebagai keturunan guru iman itu, karena kriterianya adalah soal melakukan kehendak Allah, yang senantiasa dicari bersama.

Itulah mengapa cerita duit laki saya pakai, karena duit laki atau duit perempuan dengan kavling pengelolaannya tadi menyiratkan orang nggugu karêpé dhéwé alias “ya ini gaji-gajiku, suka-suka aku dong mau pakai untuk apa”. Pola pikir begini banyak dihidupi orang beragama. Dibaptis Katolik, tapi cuma kepala atau badannya, hatinya tetap licik. Diislamkan, tapi cuma mulutnya, hatinya penuh kebencian. Bagaimana mau bersaudara dengan guru iman?

Ya Allah, mohon rahmat cinta-Mu supaya kami sungguh berikhtiar melakukan kehendak-Mu semata. Amin.


SELASA BIASA III C/1
29 Januari 2019

Ibr 10,1-10
Mrk 3,31-35

Posting Tahun B/2 2018: Tuhannya Orang Gila 
Posting Tahun A/1 2017: Ini Teman Saya

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Investasi
Posting Tahun B/1 2015: Non Sense-of-Belonging

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s