Boiling Frog Syndrome

Pernah dengar renungan kisah katak dan air mendidih? Ketik saja kata katak dan air mendidih pada browser, nanti rak ketemu renungan-renungannya. Di sini tidak disediakan renungan, tetapi beberapa poin untuk dipertimbangkan atau direnungkan. Artinya, Andalah yang merenungkan, bukan saya😂. Hari ini, kalau Anda mau merenung, silakan merenungkan boiling frog syndrome.

Kata mereka yang membuat penelitian, kodok itu kalau ditaruh di panci berisi air panas, dia akan berusaha melompat keluar dari air panas itu. Kalau panci itu diisi air dingin dan kodok itu dicemplungkan ke dalamnya, si kodok tenang-tenang aja. Juga kalau perlahan-lahan suhu itu dinaikkan secara gradual, kodok itu tetap tenang-tenang aja karena tubuhnya punya kemampuan beradaptasi. Celakanya, kemampuan adaptifnya ini tidak diimbangi pengetahuan bahwa air panas itu akan mendidih pada suhu tertentu sehingga pada saat air mendidih, ia tak lagi punya kemampuan melompat karena pada saat itu ia terbaptis dengan nama baru swikee.

Teks hari ini berisi perumpamaan mengenai jenis tanah yang ditaburi benih kebaikan dan jelaslah tanah yang subur adalah media terbaik untuk benih tadi. Dengan apakah jenis tanah itu bisa diumpamakan? Barangkali dengan bibit, bebet, bobot. Kalau orang punya 3B yang baik, nilai-nilai kebaikan tentu saja dengan mudah bisa dihidupinya, sementara kalau dari sononya orang itu buruk, nilai-nilai kebaikan akan sukar berkembang. Tampaknya begitu, tetapi pandangan ini sangat deterministik; seakan-akan orang yang 3B-nya baik, selamanya baik, dan yang 3B-nya jelek selamanya jelek.

Sebelum orang terkubur di tanah atau terbakar di krematorium, tak ada atribut final yang bisa dilekatkan padanya, persis karena orang punya kemampuan untuk berubah. Perubahannya ke arah baik atau buruk, itu soal lain. Nah, kalau begitu, apa relevansi perumpamaan teks bacaan hari ini dong? Pasti bukan pandangan deterministiknya, yaitu bahwa “karena 3B saya baik, jadi saya termasuk tanah subur” atau “karena 3B anak itu jelek, jadi tak mungkin dia akan jadi baik”. Memang terjadi bahwa orang ber-B3 jelek hidupnya gagal, tetapi kegagalannya tidak disebabkan oleh 3B-nya, melainkan oleh boiling frog syndrome: ia terlalu nyaman dengan (keluhan) 3B-nya sehingga pandangannya fatalis, menyerah pada nasib.

Persoalan sebetulnya bukanlah nasib atau jenis tanah, melainkan bahwa orang tak mau mengubah ‘jenis tanahnya’ menjadi lebih subur. “Begini saja bisa survive kok” bisa jadi dalih untuk tidak memacu diri. “Aku memang ditakdirkan sebagai kapitalis” bisa jadi tameng orang untuk membunuh empatinya. “Orang sehat saja bisa mati muda kok” adalah manifestasi orang yang malas menjaga kebugaran tubuhnya. Intinya, orang menyerah pada keadaan dan ketika tumbuh hasrat besarnya untuk mengubah nasib, ia tak tertolong lagi.

Kalau orang terkena boiling frog syndrome ini, bisa jadi ia berpuas diri dengan pandangan dan keyakinannya sendiri dan secara diam-diam menyalahkan keyakinan yang lain. Bisa jadi orang menunda-nunda pertobatan karena memisahkan dunia-setelah-kematian (yang dianggap lebih penting) dan dunia-sebelum-kematian. Bisa jadi orang gagal paham bahwa pertobatan adalah soal here and now, soal style of life lebih daripada target yang dicanangkan agama. 

Tuhan, mohon rahmat pertobatan untuk semakin terlibat dalam proses penciptaan-Mu. Amin.


RABU PEKAN BIASA III C/1
30 Januari 2019

Ibr 10,11-18
Mrk 4,1-20

Posting Tahun B/2 2018: Terang Bulan
Posting Tahun C/2 2016: Hidup Itu Sulit, Mati Gampang

Posting Tahun B/1 2015: Tiga Jenis Presiden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s