Mohon Penjelasan Pak Pulisi

Kita tahu, bukan cuma cabe yang bisa jadi pedas, melainkan juga kata-kata. Bukan hanya cabe-cabean yang rasanya hambar (tergantung bahannya juga sih sebetulnya: coklat, keju, kayu, atau plastik, misalnya), melainkan juga kata-kata basi. Kata-kata basi, kata-kata kosong, tak bersentuhan dengan realitas hidup konkret seseorang. Itu mengapa slogan muluk bisa berubah jadi kata-kata kosong karena tetap tinggal sebagai slogan.

Liturgi, Ibadat Sabda, atau apapun namanya seturut tradisi agama yang terkait dengan Kitab Suci, merupakan sarana manusiawi untuk menemukan relasi kata dengan kenyataan hidup manusia. Liturgi Gereja Katolik, misalnya, tidak menyodorkan teks Injil Lukas berurutan sebagai cerita pendek biasa. Dikutipkan empat ayat dari bab pertama, lalu sambung dengan delapan ayat dari bab keempat. Liturgi mengajak pembaca melihat teks Kitab Suci dari sudut pandang lain, bukan hanya dari sudut ilmu tafsir Kitab Suci, entah objektif ataupun subjektif.

Bacaan pertama menyajikan konteks historis bangsa Israel yang baru saja keluar dari situasi pembuangan di Babilonia. Di bawah korlap Nehemia, semacam gubernur begitu, dan Ezra, imam resmi mereka, bangsa Israel kembali ke tempat mereka yang sudah luluh lantak, tanpa tembok benteng. Mereka ada dalam keadaan rawan diserang pihak manapun yang hendak menghabisi mereka. Dalam situasi seperti itu, bagaimana bangsa Israel menghadapi hidup? Bagaimana bisa menumbuhkan daya hidup untuk membangun tatanan kembali di atas reruntuhan bekas tempat tinggal mereka?

Tak ada kekuatan selain ‘kata-kata’ yang tertuang sebagai Kitab Suci mereka! Kata-kata itu dirayakan (ala Liturgi Sabda atau Ibadat Sabda) dengan penuh hormat dan rupanya bangsa itu tersentuh. Kata-kata yang mereka dengar dan resapkan dalam hati itu sangat membantu mereka memaknai hidup mereka: tantangan, kesusahan, kegembiraan, dan sebagainya. Ini bukan soal tersentuh kata-kata asing (seolah yang alien itu berarti yang suci atau bahasa Latin lebih superior, syahdu, sakral daripada bahasa modern!), melainkan soal pemaknaan hidup dengan kata-kata yang tertera dalam Kitab Suci itu.

Kata-kata itu jadi makna jika menemukan sambungannya pada realitas konkret nan berwujud. Itulah mengapa dalam tradisi kristiani begitu penting: Sabda (yaitu Kata-kata) telah menjadi daging. Bacaan kedua menegaskan identitas itu: kamu semua adalah Tubuh Kristus. Piye jal, mosok semua jadi Tubuh Kristus! Tubuh Kristus tak terbayangkan selain dalam pengertian bahwa umat beriman semua adalah Sabda yang menjadi daging. Kalau ini pun tak terbayangkan, terpaksa kita kembali kepada narasi sederhana yang kemarin (klik di sini kalau mau). Memang tak mudah merealisasikan Sabda Allah dalam daging, apalagi jika realisasinya tidak spektakuler dalam peristiwa hidup biasa sehari-hari; apalagi juga jika setiap orang ngotot atas tafsirannya tanpa keterbukaan pada kritik. Kata-kata tak pernah akan sambung dengan realitas hidup orang yang sesungguhnya dan hidup kehilangan maknanya.

Ya Allah, mampukanlah aku untuk meresapkan Kata-kata-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA III C/2
24 Januari 2016

1Neh 8,3-5a
1Kor 12,12-30
Luk 1,1-4; 4,14-21

Hari Minggu Biasa III B/1: Sementara Nan Abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s