Allah yang Rentan

Jika gagal, orang kerapkali menghibur diri dengan idiom man proposes, God disposes: orang boleh merencanakan apa saja, tapi akhirnya Tuhanlah yang menentukan. Di balik hiburan (semu) itu, barangkali orang punya paham Allah yang sesat: sosok mahakuasa nan otoriter yang tak punya relasi dengan manusia. Kegagalan cuma berarti Allah gak menghendaki yang direncanakan manusia (dan sebaliknya jika orang sukses lalu mengklaim bahwa itulah yang dikehendaki Allah)!

Padahal, ada jauh lebih banyak fakta menunjukkan bahwa rencana Allahlah yang tak terealisir. Artinya, Allah punya rencana dan manusialah yang menentukan. Wah, sok tahu amat; dari mana tahu rencana Allah? Ya dari hukum-Nya, dari wahyu-Nya yang ditangkap manusia, apa pun agamanya. Jelas bahwa Allah menghendaki kebaikan manusia, tetapi manusia sendiri yang melawan kebaikan itu, bukan?

Dalam iman kristiani, cinta Allah membuat manusia jadi co-worker Allah sendiri untuk mewujudkan kehendak-Nya. Maka, tak bisa cuma “man proposes, God disposes“, tetapi juga “God proposes, man disposes“. Jika percaya bahwa Allah mencintai manusia, orang juga perlu ingat bahwa cinta Allah itu pasti menempatkan-Nya dalam posisi rentan. Bayangkanlah, cinta Anda kepada pasangan itu senantiasa ada di ujung tanduk: bisa-bisa bertepuk sebelah tangan! (hiksss)

Orang yang mencinta itu menginvestasikan harapannya pada sosok yang dicintainya, tetapi sangat bisa jadi harapan itu pupus oleh aneka situasi. Cinta memang berarti membuka peluang terhadap luka, sakit, dan pengkhianatan. Kalau tak mau menderita, luka, terkhianati, ya jangan mencintai orang lain (dan hidup jadi cupet, mampet, buntet dan tinggal menunggu waktu untuk meledak dalam keluh kesah dan amarah)!

Bacaan Injil hari ini adalah bagian dari obrolan Yesus dan Nikodemus di malam hari. Diam-diam Nikodemus, orang Yahudi terpandang, datang kepada Yesus untuk menjawab rasa penasarannya tentang sosok guru utusan Allah. Jawaban Yesus semula begitu sureal: untuk bisa memperoleh keselamatan, orang mesti dilahirkan kembali. Wis kebacut mbrojol mosok mau masuk lagi ke rahim ibu karena ternyata ibunya bukan ibu negara?!

Kelahiran kembali dalam perikop ini dianalogikan dengan dinamika salib: hanya dengan penderitaan salib orang dapat bangkit mulia. Itulah kelahiran kembali. Seseorang yang sedang sakit bisa memperoleh kekuatan hidup baru ketika memandang salib bercorpus: bukan karena salib itu punya tuah, melainkan karena salib itu mengingatkan dirinya bahwa ada kenyataan tak terbantahkan bahwa penderitaan bukan akhir cerita. Penderitaan memang merupakan bagian kerapuhan.

Bacaan pertama menyajikan dimensi kerapuhan itu juga dengan menunjukkan kontras antara kesetiaan Allah dan ketidaksetiaan umat manusia pada janji Allah sendiri. Cinta Allah rawan pengkhianatan; barangkali juga bukannya karena manusia sengaja mau berkhianat, melainkan karena orang tak paham.

Terang ke dalam dunia umumnya ditangkap sebagai lampu-lampu yang mengusir kegelapan kota; tetapi orang silap oleh lampu itu. Orang tidak melihat hal yang lebih penting dari terang lampunya sendiri: arus listrik yang memungkinkan lampu menyala! Maklum, pada zaman Yesus belum ada listrik, jadi metafor yang dibuatnya tentu belum menyentuh kenyataan ini: kehadiran Allah itu seperti arus listrik yang menghidupkan, menggerakkan aneka macam hal di dunia ini.

Semoga hidup kita bisa menjadi simbol kerentanan (Allah), simbol pemberian diri, simbol penjelasan bahwa hidup itu senantiasa dihadiahkan, dibagikan, dan bukannya digenggam atau dipenjara bagi diri sendiri. Hidup yang dibagikan, seperti arus listrik yang jadi nyawa, kiranya lebih menggembirakan.


HARI MINGGU PRAPASKA IV B/I
Minggu Laetare
15 Maret 2015

2Taw 36,14-16.19-23
Ef 2,4-10
Yoh 3,14-21

Posting Tahun Lalu: The Primacy of the Heart