Cermin Mana Cermin…

Tuhan lebih suka orang yang merendahkan diri karena perbuatan dosanya daripada orang yang menyombongkan diri karena perbuatan baiknya. Gak percaya? Coba aja berbuat baik sebanyak mungkin dan sombongkanlah perbuatan baik itu ke mana-mana. “Aku penyumbang terbesar gerakan pengentasan kemiskinan loh!” “Aku yang membesarkan dan mendidik Romo anu loh!” “Aku yang menelorkan ide subsidi silang loh!” “Aku yang melatih para pemimpin handal di negeri ini loh!”

Setelah tebar pesona kebaikan kepada setiap orang, catatlah reaksi orang tersebut. Reaksi orang itu kira-kira juga merupakan reaksi Tuhan sendiri: satu dua kali mungkin masih oke, tetapi kalau terus menerus orang menyombongkan perbuatan baiknya dengan kata dan tindakannya, orang lain akan muak juga. Kebaikan berubah menjadi topeng kemunafikan.

Perumpamaan yang disodorkan Yesus hari ini menampilkan dua model iman dan doa. Yang pertama adalah model orang farisi. Ia berdiri bukan di hadapan Allah, melainkan di hadapan dirinya sendiri: tak bicara dengan Allah, tetapi dengan dirinya sendiri. Doanya tidak berjalan dua arah, tetapi merupakan monolog. Kebaikan dibuatnya bukan untuk memuji Allah, melainkan untuk memuliakan dirinya sendiri. Maka, iman orang ini adalah iman pohon natal dan telur paska yang dihias sangat indah dan cantik, tetapi selalu bersifat eksterior. Interiornya ya seperti yang dipikirkan orang farisi tadi: sudah berbuat baik ini itu kok. Tak ada relasi dengan Tuhan, tetapi dengan dirinya sendiri dalam arogansi tiada batas.

Yang kedua adalah model pendosa, yang dengan rendah hati mengakui keberdosaan, kerapuhan, kelemahan, kekurangannya. Pengakuan seperti ini tak dibuat di hadapan diri sendiri, tetapi di hadapan pihak lain: Allah yang murah hati. Orang berseru mohon pengampunan dan seruannya ini senantiasa mengetuk hati dan menggugat budi. Hati yang remuk redam tidak dipandang hina oleh Tuhan.

Tak ada doa yang benar tanpa kerendahan hati, dan tak ada kerendahan hati tanpa kesadaran diri sebagai pendosa. Doa adalah cermin kebenaran: membuat orang melihat dalam dirinya aneka kekurangan atau dosa yang dilihatnya ada pada diri orang lain. Dalam doa yang benar, kemunafikan terbongkar. Ia bahkan sadar bahwa menganggap diri sepenuhnya benar dan orang lain salah adalah suatu ‘dosa’. Tanpa kesadaran ini, muncullah arogansi para begal spiritual: menganggap agamanya benar dengan menghakimi agama lain kesasar. Cermin… mana cermin?


HARI SABTU PRAPASKA III
14 Maret 2015

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting Tahun Lalu: Saat Tuhan Tiada…