Saat Tuhan Tiada…..

SABTU PRAPASKA III

Hos 6,1-6
Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita…. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.

Luk 18,9-14
Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai…. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


Ajakan yang tersurat dalam nubuat Nabi Hosea untuk mengenal Tuhan (dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan) secara sepintas tak didukung oleh almarhum Tom Jacobs SJ: beliau menulis buku panjang lebar mengenai Paham Allah dan di akhir buku malah menegaskan bahwa tidak ada paham Allah. Tiada paham Allah dalam filsafat, agama, bahkan teologi (yang konon justru adalah ilmu ketuhanan)! Lha, kalau tidak ada paham Allah, trus ngapain Nabi Hosea ngajakajak orang untuk berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan?

Romo Tom Jacobs mengajukan konsep paham Allah bukan sebagai olah budi belaka, melainkan juga olah hati. Mangsudnyah? Paham Allah bukan hanya utak atik otak, melainkan pengertian yang diperoleh dari refleksi hidup manusia dalam relasi pribadinya dengan Allah. Misalnya, seorang calon imam bisa secara brilian mempelajari teologi mengenai Allah yang bersifat triniter (tritunggal), dan semua rumusan dan dogma mengenai Allah Tritunggal itu dikuasainya di kepala. Akan tetapi, mungkin saja dalam hidup kesehariannya aneka pengetahuan kognitifnya itu tidak merambah nyawanya: lesu dalam rutinitasnya, tak punya visi hidup yang jelas bagi dirinya sendiri, bahkan lebih parah lagi, mungkin juga tak berdoa.

Artinya, Allah Tritunggal itu diam dalam kepala, dan tak memberi jiwa pada kegiatan konkret setiap hari. Dalam arti itulah Romo Tom Jacobs menyebut ketiadaan paham Allah. Orang sudah merasa nyaman dengan aneka gagasan di kepalanya, percaya diri dengan nilai A yang diperolehnya dalam studi teologi, bahkan mungkin memandang rendah orang lain yang tidak memiliki privilese pengetahuan teologi seperti yang dimilikinya. Hal seperti inilah yang rupanya menghambat suatu pengenalan akan Allah, suatu sikap puas diri nan arogan sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan Yesus pada hari ini.

Baik orang Farisi dan pemungut cukai datang ke Bait Allah bukan pada saat ibadat wajib. Artinya, mereka datang ke tempat doa untuk melakukan devosi mereka. Ini sudah sesuatu banget: mereka berdoa bukan karena kewajiban semata. Memang sih, motifnya mungkin gak oke2 banget. Si Farisi datang ke situ karena tempat doa itu lebih publik sifatnya daripada di tikungan2 jalan (dengan demikian, ia bisa menarik mata banyak orang), sementara si pemungut cukai datang ke Bait Allah sebagai tempat doa bagi semua (Yes 56,7). Urusan Farisi untuk mencari pujian, sedangkan pemungut cukai untuk bisnisnya. Farisi mau unjuk diri, pemungut cukai ingin mengajukan permintaan. Allah memberi rida kepada pemungut cukai lebih daripada orang Farisi.

Rupanya, mengakui diri sebagai pendosa lebih diterima Allah daripada berpuas diri sebagai orang benar. Yang pertama menuntun pada pertobatan, yang kedua meniadakan Tuhan.

1 reply