Cuma Ada Satu Cinta

Ajaran Yesus gak selalu baru, termasuk ajarannya tentang cinta kepada Tuhan dan sesama. Para rabi Yahudi juga mengajarkan begitu karena memang saripati hukum Taurat itu sudah dituliskan juga dalam Perjanjian Lama: Kitab Ulangan 6,4-5 (Kasihilah…Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu) dan Imamat 19,18 (Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam… melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri).

Kebaruan ajaran Yesus ialah bahwa ia menghubungkan kedua perintah itu. Cinta kepada sesama bukanlah alternatif bagi cinta kepada Allah. Orang tidak bisa memilih antara mencintai Allah dan sesama, seolah-olah ia bisa mencintai sesama saja tanpa mencintai Allah atau mencintai Allah saja tanpa mencintai sesama. Bagaimana Yesus menghubungkan kedua perintah itu? Indikasinya ada pada keterangan numerik ordinal: hukum pertama dan kedua. Yang pertama adalah cinta kepada Allah dan yang kedua adalah cinta kepada sesama; tidak sebaliknya.

Orang baru sungguh-sungguh mencintai sesamanya hanya jika cintanya itu mewujudkan cinta kepada Allah sendiri. Dengan kata lain, misalnya, seorang suami sungguh-sungguh mencintai istrinya jika cinta kepada istrinya itu membantunya untuk menjadi diri sendiri, yaitu mencapai tujuan hidupnya: mencintai Allah di atas segala-galanya (bdk. Ul 30,19-20). Dalam terang kebenaran itu, setiap orang perlu melihat kembali cara dia mencinta karena banyak klaim cinta, yang memperbudak diri sendiri maupun orang lain, merupakan manipulasi, wujud egoisme belaka.

Cinta manusia kepada Allah dan sesama mengandaikan adanya cinta pertama: cinta Allah kepada manusia itu sendiri. Jika Allah tak lebih dulu mencintai manusia, tak mungkinlah manusia mencintai Allah. Cinta Allah itulah yang menjadi sumber dan tolok ukur cinta manusia. Bagaimana mengukurnya? Dengan mencintai sesama seperti Allah sendiri mencintai manusia (Jika orang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, bagaimana mungkin ia mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya? Bdk. 1Yoh 4,20). Siapakah sesama itu? Ya setiap orang yang dicintai Allah, yaitu seluruh umat manusia, tanpa memandang batas apa pun: ras, agama, harta, status perkawinan, suku, bahasa, usia…

Tuhan, semoga aku semakin mampu mencintai-Mu dalam setiap perjumpaan dengan sesama dan relasiku dengan kehidupan ini menjadi wujud cintaku pada-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
13 Maret 2015

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting Tahun Lalu: Ujung2nya Duit atau…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s