Berani Nekat?

Sepertinya di dunia ini ada jauh lebih banyak orang yang nekat daripada orang yang sungguh berani. Tahu bedanya antara nekat dan berani? Nekat adalah hasil brainwashing, buah indoktrinasi: orang ‘tak tahu’ apa yang mereka lakukan. Apakah yang disebut para pahlawan itu pemberani atau orang nekat? God knows.

Bacaan pertama hari ini mengisahkan Yakub yang diberi pesan Allah supaya tidak takut meninggalkan Kanaan dan pergi ke Mesir. Pada kenyataannya, Yakub takut (maka Tuhan berpesan supaya ia tidak takut), tetapi toh ia bersama keturunannya dan aneka harta benda mereka berangkat juga ke Mesir. Pergi ke tanah asing untuk plesir atau berlibur adalah hal yang berbeda dari masuk ke wilayah asing untuk memperjuangkan kehidupan. Keberanian Yakub untuk pergi ke Mesir bersama trahnya tidak melenyapkan rasa takutnya (karena toh keberanian pun bukan ketiadaan rasa takut). Kepercayaan Yakub kepada janji dan rencana Allah mengatasi rasa takutnya untuk pergi ke wilayah asing.

Bacaan Injil menunjuk kondisi yang mirip. Yesus memberi wejangan sebelum para muridnya pergi mempersaksikan lifestyle-nya ke wilayah-wilayah di Israel, yang tentu saja masih asing bagi dua belas muridnya. Yesus mengerti betul bahwa lifestyle yang ditawarkannya akan mendapat banyak tentangan bahkan bisa membahayakan. Maka, ia berpesan supaya para muridnya cerdik tetapi juga tulus. Dalam pesannya ditunjukkan dua aspek yang perlu dipegang: kepercayaan kepada proyek keselamatan Allah dan realisasinya yang hati-hati dalam relasi manusiawi. Kewaspadaan yang diutarakan Yesus tidak dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa orang lain jahat, tetapi bahwa kemungkinan risiko penganiayaan dan permusuhan itu nyata. Bisa jadi mereka mengalami seperti yang dialami guru mereka yang diserahkan ke ‘dalam tangan manusia’ (bdk. Mat 17,22).

Meskipun demikian, wejangan Yesus ini bisa saja oleh sebagian orang dipelintir atau logikanya dibalik: asal sudah mengalami penganiayaan atau pertentangan, berarti orang sudah mengikuti Kristus. Asal sudah konflik berarti sudah mengamalkan wacana kritis seperti yang dilakukan Yesus. Pertentangan dengan masyarakat, dengan anggota keluarga, diklaim sebagai akibat bahwa orang sudah sungguh menjalankan ajaran Kristus. Padahal, lifestyle Yesus saja mungkin orang ini belum ngerti. Orang mengira asal sudah menyebut nama Yesus lantas apa saja yang dilakukannya memang sungguh keluar dari bimbingan Roh (bdk. Mat 10,20).

Itulah bahayanya brainwashing maupun indoktrinasi: orang begitu getol dan berani berkoar-koar tentang Yesus, padahal ketulusannya yang seperti merpati masih bisa diragukan dan ‘kecerdikannya’ masih jauh dari ‘kecerdikan ular’. Orang-orang macam ini mungkin bisa disebut berani juga… berani nekat.
Apakah para martir itu termasuk orang-orang yang berani nekat? God knows. Secara teoretis, mereka nekat jika relasi dengan Kristus hanya tinggal dalam tataran doktrinal dan terlepas dari jangkauan kesadaran praktis mereka.

Ya Tuhan, janganlah aku Kaubutakan dengan aneka prestasi diriku, melainkan izinkanlah aku pertama-tama untuk senantiasa hidup bersama-Mu dalam segala susah payah hidup ini. Amin.


HARI JUMAT BIASA XIV B/1
10 Juli 2015

Kej 46,1-7.28-30
Mat 10,16-23

Posting Tahun Lalu: Apakah TV Bisa Tobat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s