Transparan Itu Sesuatu

Sewaktu pergi ke biara Benediktin di Norcia, Italia, untuk mengunjungi seorang teman rahib, saya tidak mengikuti ritme harian para rahib. Bukan apa-apa, waktu berkunjung saya tidak lama. Perjumpaan dengan teman itu terbatas pada makan siang dan jam terima tamu dan saya tidak datang untuk live in promosi panggilan untuk menjadi rahib. Maka waktu pagi hari saya pakai untuk keluyuran di sekitar biara sampai ladang gandum yang sudah dipanen dan sebagian tempat tertutup salju (yang baru saya lihat pertama kali di sana). Tetapi, sembari berjalan sendirian itu saya mencoba melihat style para rahib yang jelas berbeda dari style saya.

Hal yang mengesankan saya dari hidup mereka adalah kesederhanaan. Kesederhanaan bukan soal bahwa mereka tak punya apa-apa. Mereka malah punya fasilitas modern nan canggih untuk bekerja; mobil juga punya. Kesederhanaan yang bisa saya bayangkan dari para rahib itu ialah bahwa mereka hidup dalam kebersamaan sebagai pribadi-pribadi yang mengandalkan Allah. Di situ diandaikan adanya transparansi para anggota biara. Tanpa transparansi para anggota biara ini, kesaksian komunitas biara itu tentu hancur: masing-masing mengejar proyeknya sendiri.

Dalam bacaan pertama dikisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf ketakutan pasca kematian ayah mereka. Mereka khawatir bahwa Yusuf akan balas dendam atas kejahatan mereka terhadap Yusuf. Maka mereka mencoba membuat strategi komunikasi yang tampak tidak transparan. Alih-alih mengatakan kekhawatiran mereka, mereka membuat komunikasi yang complicated: ini pesan Bapak padamu (yang belum tentu betul sungguh-sungguh memberi pesan kepada Yusuf), supaya kamu mengampuni saudara-saudaramu. Cara lain juga dipakai untuk mencapai tujuan mereka: merengek-rengek untuk jadi budak Yusuf. Ini kesannya merendah, tetapi sebetulnya karena ketidaktransparanan itu, mereka malah hendak menempatkan Yusuf sebagai ‘budak’ yang harus tunduk pada keinginan dan kekhawatiran mereka.

Memang permohonan mereka terkabul, tetapi tidak seperti yang ada dalam kepala mereka. Yusuf menerima saudara-saudaranya sebagai keluarga seperti dahulu kala semata karena ia percaya bahwa Allah mereka-rekakan kejahatan saudara-saudaranya untuk suatu kebaikan. Nota bene! Ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kejahatan saudara-saudara Yusuf adalah kehendak Allah (begitulah keyakinan naif yang dipelihara oleh orang-orang saleh yang gak mau merefleksikan imannya). Yusuf memegang proyek Allah lebih dari kekhawatiran dan komunikasi politik kepentingan saudara-saudaranya.

Kiranya tak keliru juga Injil menyarankan umat beriman supaya tidak takut dan khawatir karena proyek Allah lebih dahsyat daripada aneka proyek abal-abal kita.

Tuhan, buatlah aku semakin transparan di hadapan-Mu dan menangkap apa yang Kaukehendaki atas hidupku, lebih daripada apa yang menyenangkan diriku belaka. Amin.


HARI SABTU BIASA XIV B/1
Pesta Wajib S. Benediktus Abas
11 Juli 2015

Kej 49,29-32;50,15-24
Mat 10,24-33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s