Tiga Golongan Orang

Dalam terminologi kerohanian (ignasian), orang bisa dikategorikan dalam tiga kelompok (yang saling berhubungan, kategori ini hanya menunjukkan orientasi dasar seseorang):

  1. Mereka yang gak peduli soal-soal tentang Tuhan (ada apa enggak, berapa jumlahnya, apa maksudnya Anak Allah, dlsj.
  2. Mereka yang percaya adanya Tuhan dan ingin Tuhan itu cocok dengan skenario yang mereka kehendaki.
  3. Mereka yang sungguh berhasrat mengikuti cara kerja Tuhan.

Mereka yang masa bodoh dengan soal ketuhanan

Orang dalam kelompok ini tidak punya kepedulian, apalagi upaya, untuk membangun suatu relasi dengan Allah. Alasannya macam2 dan mungkin benar juga alasannya. Pokoknya relasinya dengan Allah tak pernah terungkap. Orang ini tidak harus agnostik atau ateis; KTP Indonesia-nya jelas mencantumkan agama tertentu, tetapi hubungan pribadinya dengan Allah bener2 tak terdeteksi. Itu seperti orang jatuh cinta dengan orang lain tetapi tak mau mengakui bahwa ia sedang jatuh cinta, tidak juga menyatakan cintanya pada orang itu atau bahkan tak melakukan follow-up apapun terhadap cintanya itu. Dalam arti ini, relasinya dangkal dalam level pertemanan. Nyaman, aman, dan barangkali mudah, tak ada risiko ditolak. Tanpa masuk dalam risiko relasi dewasa, orang dalam kelompok ini tetap menjadi anak-anak, menolak untuk bertumbuh dewasa.

Mereka yang egoistik

Dengan analogi orang jatuh cinta, tipe orang kedua ini mengakui diri sedang jatuh cinta, tetapi cintanya terbatas hanya pada kebutuhan-kebutuhan pribadinya. Orang yang dijatuhi cintanya harus melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang jatuh cinta; ia harus hidup seturut keinginan orang yang jatuh cinta kepadanya. Cinta macam ini tampak menampakkan diri sebagai cinta yang penuh kecemburuan atau narsisme. Orang yang jadi korban jatuh cintanya mesti hidup seturut proyeksi idealisme orang yang sedang jatuh cinta, maka relasinya menjadi suatu pelecehan yang muncul dari kepentingan diri belaka. Golongan orang kedua ini memperlakukan orang lain, dan Tuhan juga, sebagai objek yang bisa dimanipulasi untuk kepuasan dirinya.

Mereka yang punya komitmen sungguhan

Golongan orang ketiga ini memiliki komitmen terhadap orang yang dicintainya dan ia hidup seturut komitmen itu secara bertanggung jawab. Orang ini menginginkan atau menolak sesuatu sesuai dengan inspirasi yang diperolehnya dari Allah sendiri, klop dengan azas dan dasar hidup. Orang ini masuk dalam setiap momen kehidupan dengan menanyai diri sendiri bagaimana mencintai secara bertangung jawab dalam setiap situasi konkret. Cinta macam ini tidak dirusak oleh pilihan-pilihannya tetapi justru dipertegas oleh aneka pilihannya.

Tentu saja semua orang ingin mencapai kepenuhan cintanya dan semuanya mengklaim bahwa mereka sungguh-sungguh dalam cintanya. Ortu cari duit, katanya, semata-mata untuk cinta kepada keluarganya (ironisnya sampai tak punya waktu untuk keluarga!) misalnya. Menurut  Santo Ignasius, daripada runyam mengklaim cintanya sungguhan atau tidak, mungkin lebih baik melihat bagaimana orang menggunakan kekayaan (uang atau bakat) yang dimilikinya. Orang tahu bahwa dia mesti pakai kekayaannya untuk sesuatu yang baik, tapi yang namanya godaan mah sepanjang segala abad.

Lha, di situlah teruji bagaimana orang sungguh menghindari kepentingan diri yang narsistik. Golongan orang pertama tak bisa memutuskan bagaimana menghindari narsisme dalam hidupnya, tidak melakukan apa-apa dan akhirnya tetap tinggal dalam narsisme kepentingan diri.  Ia bahkan tak punya ide mengenai perlunya golongan orang kedua atau golongan orang ketiga, emang gue pikirin. Golongan orang kedua bisa memutuskan, bukan untuk menghindari narsisme, melainkan untuk memeluk narsisme dan mengupayakan supaya bahkan Tuhan pun membenarkan narsismenya itu. Golongan orang ketiga hanya fokus pada bagaimana menggunakan sebaik-baiknya karunia yang dimilikinya. Mungkin orang akan menuduhnya narsis atau sangat berjiwa sosial, tetapi tuduhan itu bukan pokok perhatiannya. Pokok perhatiannya ialah bagaimana dengan semua yang dimilikinya ia bisa lebih baik lagi mengabdi dan memuliakan Allah.

John Pungente & Monty Williams, Finding God in the Dark.

5 replies

  1. menghibur juga membaca artikel Panjenengan itu mas Brow..kalo aku sih masuk golongan 1 s.d. 3..saya sih berharap bisa seperti penjahat yang di sebelah kanan Yesus..TAPI, sejarah hidup macam apa ya yg bisa menerbitkan tiga karakter tersebut? Lalu bgm yg butuh revisi (pertobatan) dan cetak ulang (menyelamatkan jiwa-jiwa)?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s