Kebebasan Macam Apa

Kebebasan orang pada umumnya merupakan kebebasan bersyarat. Kenapa? Karena setiap orang ingin bebas! Kebebasan orang yang satu menjadi batas kebebasan orang yang lainnya. Kebebasan seperti inilah yang ditawarkan Raja Nebukadnezar kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka akan dibebaskan dari hukum bakar jika mau menyembah patung emas yang didirikannya. Inilah cara Nebukadnezar menancapkan kekuasaannya, dan kiranya begitu juga cara kerja money politics: kamu kuberi duit, tapi nanti motormu dimodif supaya bisa untuk kampanye ya; kepentinganmu kuperjuangkan, tapi kamu bayar DP dulu dua belas juta ya sebagai sumbangan sukarela, dan aneka ungkapan lainnya. Pokoknya, orang ditawari kebebasan bersyarat: cirinya selalu fisik.

Sadrakh, Mesakh, Abednego tak bernegosiasi dengan kebebasan fisik mereka. Mereka punya kebebasan rohani yang disodorkan Kristus: apapun penderitaan yang bisa menimpa hidupku, aku punya komitmen yang jelas dan tegas bahwa satu-satunya yang kusembah adalah Allah, yang jauh lebih berkuasa daripada manusia manapun, apalagi patung emas. Kebebasan batin seperti ini memungkinkan orang merelativir ukuran-ukuran fisik: keribetan prosedur, sakit fisik bahkan beban emosional. Artinya, itu semua bisa saja menjadi konsekuensi yang perlu ditanggung kalau orang sungguh mau menjadi murid Kristus, menghidupi azas dan dasar.

Nebukadnezar menyodorkan kebebasan fisik, Kristus memberikan jaminan kebebasan batin, sumangga mau pilih yang mana, apa, dan siapa….

“The truth will set you free, but first it will piss you off.”
Gloria Steinem


RABU PRAPASKA V

Dan 3,14-20.24-25.28
Jika Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari tanganmu, ya Raja; tetapi seandainya tidak…kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.

Yoh 8,31-42
Tidak semua orang Yahudi menolak Yesus. Kepada beberapa orang yang mulai percaya itu Yesus memberikan peneguhan mengenai (1) ciri-ciri murid Kristus yang benar dan (2) hak istimewa yang akan diperoleh sebagai murid Kristus. Murid Kristus yang sesungguhnya mungkin bisa dikategorikan sebagai mereka yang masuk dalam golongan orang ketiga, orang yang memiliki kehendak bebas untuk mengikuti (bukan ikut-ikut) lifestyle Yesus. Orang seperti ini akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan kebenaran itu justru semakin membebaskan dirinya secara rohani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s