Ikut Dia, Kagak Ada Matinye…

Mosok hanya dengan menuruti sabda Tuhan, orang tak akan mengalami maut sampai selama2nya? Aneh sekali kata2 Yesus ini. Wong dia aja mati gitu kok, kenyataan itu berarti malah menyangkal kata2nya dong! Bahkan, baru aja pengikutnya dibunuh di Syria; apa ya tetap mau bilang bahwa orang yang menuruti sabda Tuhan tak mengalami maut, punya imortalitas (keadaan tak-dapat-mati)? Atau si jesuit itu tidak menuruti sabda Tuhan selama 50 tahun di Syria alias munafik???
Santai bro’, ini tulisan Injil Yohanes, gak isa ditelan mentah-mentah gitu.

Untuk memahaminya kita bisa memakai bantuan adegan film Patch Adams misalnya. Si tua jenius Arthur menanting Patch Adams untuk tidak berfokus pada problem, untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain, bahkan untuk melihat yang orang lain memilih tak mau melihatnya karena takut, karena cari yang enak, karena malas. Ini adalah soal masuk dalam dunia konkret, dunia nyata yang amburadul dengan cara pandang yang memerdekakan, membebaskan orang dari beban dan membiarkan nyawanya hidup. Seperti reaksi orang pada umumnya terhadap Arthur, reaksi orang Yahudi terhadap Yesus adalah: cah gemblung, orang sinting, kerasukan iblis, gak genep, dan lain2nya.

Frans van der Lugt

Tradure est tradire, menerjemahkan memang punya risiko mengkhianati yang diterjemahkan. Memang sih dalam Kitab Suci bahasa Indonesia tertulis: barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Padahal dalam versi Inggrisnya: he shall never see death; dan versi Latinnya dipakai mortem non videbit in aeternum; kalau diterjemahkan ‘tidak akan melihat kematian’ pun sebetulnya tak apa-apa. Seperti Arthur membuka rahasia kepada Patch Adams bahwa empat jari yang ditanyakannya sebetulnya juga bisa dilihat delapan jari jika fokus penglihatan diletakkan pada balik jari.

Ini seperti Romo Frans van der Lugt yang tidak ‘melihat’ lagi Islam-Kristennya, melainkan kemanusiaan yang diturunkan oleh Abraham seluas dunia. Ia melihat kemuliaan Allah di balik orang-orang Siria yang dijumpainya, yang dilayaninya. Janji Allah kepada Abraham, dan sebaliknya, akan cedera jika orang hanya sibuk fokus pada Islamnya seseorang atau Kristennya seseorang [Orang macam ini senang atau ribut dengan sensasi artis pindah agama, tak bisa melihat sesuatu yang lebih jauh dari itu].

Kalau orang sungguh berpegang pada Sabda Allah, ia tidak melihat kematian, ia melihat sesuatu yang jauh lebih besar, bahwa Allah mencipta dunia, merawatnya melalui aneka peristiwa (yang memang memuat kematian fisik, kesusahan emosional, panas terik matahari, kedinginan yang menusuk, dan lain sebagainya). Sekali lagi, orang yang bertobat adalah orang yang masuk dalam proses penciptaan dunia itu. Maka dari itu, pertobatan selalu berciri on-going, terus menerus, sebagaimana Allah juga belum berhenti mencipta bangsa keturunan Abraham. Kagak ada matinye dah…. Orang mencicipi kematian kalau ia stagnan pada problem, masa lalu, luka batin, dan sejenisnya….


KAMIS PRAPASKA V
10 April 2014

Kej 17,3-9
Yoh 8,51-59

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s