Beriman Itu Ada Ujiannya

Harap maklum jika orang tak tertarik mendengarkan uraian suci dari mulut orang yang perilakunya jauh dari mulutnya. Kekuatan kebenaran tidak terletak pada kata-kata bijak yang dirangkai, melainkan pada kecocokannya dengan penghayatan hidup si perangkai kata-kata. Ini bukan soal tuntutan perfeksionis, bukan soal menuntut orang sempurna dulu dalam kepribadiannya sebelum berkata-kata (karena kalau begitu ya tak ada orang yang bisa berkata-kata), melainkan soal integritas. Orang omong A, dia melakukan A. Berhasil tidaknya melakukan A, itu lain soal; tetapi jika orang omong A, kelakuannya mengarah ke BCDE, ia melanggar prinsip integritas dan yang dikatakannya hanyalah layanan bibir.

Yesus memberi catatan tajam terhadap pelayan bibir ini: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga (Mat 7,21). Seruan yang diulang umumnya dipakai untuk situasi emosional atau penekanan terhadap sesuatu. Akan tetapi, seruan keras dengan corong suara berjelajah radius 1 km pun tak berarti banyak jika tidak disertai upaya orang yang berseru itu untuk melaksanakan mandat atau implikasi seruannya. Seruan doa bisa jadi layanan bibir doang.

Kata-kata dari mulut Yesus memukau pendengarnya karena membawa resonansi kebenaran, lebih dari itu, karena ia sendiri akhirnya menjadikan hidup matinya sebagai meterai kotbahnya, secara definitif dengan kematiannya di kayu salib. Kuasa kata-katanya tidak bersifat memaksa, tetapi lebih persuasif menyentuh common sense dan hati orang. Apa yang dia katakan, meskipun tajam, toh membebaskan orang untuk menghayati iman tertentu. Dianalogikannya orang yang mendengar Sabda-Nya dan melakukannya, dialah orang bijak yang punya integritas dan kokohlah karakternya.

Di sini Yesus tidak lagi bicara soal integritas, sinkronisasi kata dan perbuatan. Betapapun penting, integritas hanyalah kualitas metode penyelarasan antara apa yang diyakini/dikatakan dan dilakukan. Yesus bicara soal materi yang diselaraskan itu: Sabda Allah sendiri, yaitu Yesus Kristus. Orang bijak mendengar Sabda Allah dan mendagingkan Sabda itu, sedangkan orang bodoh mendengar Sabda Allah, tetapi mengabaikannya dan malah lebih mendengar sesuatu yang lain. Contohnya dalam bacaan pertama: Abram melakukan yang dikatakan Sarai (yaitu mengawini budaknya). Ini ungkapan yang mirip dengan teks Kitab Kejadian 3,17: …engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dua teks itu mengindikasikan lemahnya iman mereka, yang bisa merumitkan rencana keselamatan Allah sendiri.

Kita bisa mengukur iman saat diuji oleh aneka perubahan yang hendak mencabut akar relasi dengan Allah, oleh aneka bahaya. Ini terjadi pada semua orang, termasuk murid-murid yang baik sekalipun. Iman teruji bukan saat orang merasa damai dan tentram dalam gedung gereja megah atau selama perayaan liturgi yang sempurna (seturut rubrik, maaf, rubrik lagi rubrik lagi; semoga tidak garuk-garuk, red.), melainkan saat grafik hidup menurun: kesehatan, pekerjaan, bisnis, dan doa yang kering. Pada saat-saat seperti itu, secara istimewa saat kita menjalankan ibadah puasa, kita bisa memeriksa apakah hidup kita dibangun di atas pasir atau di atas batu.

Ya Allah, ujilah imanku supaya aku boleh mengalami kebebasan yang menggembirakan terutama justru pada saat hidup terasa begitu sulit.


KAMIS MASA BIASA XII B/1
25 Juni 2015

Kej 16,1-12.15-16
Mat 7,21-19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s