Kerja di Balik Layar?

Sewajarnya orang sulit memercayai apa yang tampaknya too good to be true. Itu juga yang dialami Abraham ketika ia mendengar rencana yang disampaikan Allah melalui Sarai, istrinya. Abraham diminta untuk tidak lagi memanggil istrinya dengan nama Sarai, melainkan Sarah. Artinya sama sih (ratu atau putri raja), tetapi seperti nama Abram, nama Sarai menyimbolkan masa lalu. Nama baru Sarah, seperti Abraham, akan jadi reminder terhadap apa yang direncanakan Allah untuk masa depannya: darinya akan dilahirkan pemimpin bangsa-bangsa.

Bagaimana Abraham mau percaya? Sarah sudah lanjut usia, plus ‘mati haid’ (Kej 18,11)! Maka tertawalah Abraham dalam hatinya karena rencana Allah itu. Tidak mungkin, tidak mungkin! Karena itu, anak yang betul-betul lahir dari Sarah dinamai Ishak, yang artinya tak jauh-jauh dari kata tertawa. Nama itu mengingatkan orang pada reaksi Abraham terhadap rencana Allah yang susah dipercaya. Pada akhirnya memang rencana itu terealisir, tetapi itu juga terjadi karena Abraham mengingat rencana Allah itu bagi masa depan keturunannya. Sarah sendiri mengikuti jejak Abraham, yang telah percaya lebih dulu: ia tertawa dalam hatinya ketika mendengar bahwa dirinya akan mengandung dan melahirkan anak.

Terhadap rencana Allah, aneka reaksi bisa kita berikan seturut tingkat kepercayaan kita terhadap Allah sendiri, dan dari reaksi itulah juga bergantung bagaimana rencana keselamatan Allah terjadi. Mukjizat yang dibuat Yesus terhadap orang kusta dalam arti tertentu juga menjadi sesuatu yang too good to be true bagi penderitanya. Yesus berpesan supaya orang kusta yang disembuhkan itu tidak berkoar-koar mengenai kesembuhannya. Tentu saja, zaman itu belum ada kamera dan tongsisnya, tetapi permintaan Yesus supaya orang yang sembuh itu tutup mulut bukan semata-mata sebagai larangan untuk selfie.

Yesus tidak menginginkan mukjizat menjadi fokus perhatian orang. Mukjizat, betapapun menakjubkan, tak pernah boleh mengacau rencana keselamatan Allah (yang bisa diistilahkan sebagai ‘rahasia mesianik’). Ini memang sulit. Di satu sisi, orang tak bisa diam untuk tidak menceritakan kebaikan Allah dalam hidupnya. Di lain sisi, koar-koar tentang kebaikan Allah itu bisa jadi bumerang bahkan bagi Allah sendiri. Lihatlah patung lembu emas bangsa Israel atau idol-idol lain yang diciptakan orang atas dasar klaim suci kebaikan Allah. Yesus mengundang para muridnya untuk secara bijak menyikapi bahkan mukjizat Allah dalam hidupnya: tidak menertawakan lantaran tak memercayainya, tetapi juga tidak berkoar-koar sehingga orang lain malah berganti fokus.

Rencana Allah nan tersembunyi terealisir dalam kerja orang-orang di balik layar: tukang baut, tukang sol, tukang rias, tukang kayu, tukang pejet-pejet tombol, nelayan, petani, juru tulis, dan sebagainya. Barangkali rencana setan malah paling nyata tampak pada orang-orang yang senantiasa disorot media: perampok uang rakyat, pembunuh yang berusaha membuat alibi, dan sebagainya. Tentu, bekerja di balik layar tak berarti sembunyi-sembunyi, tetapi orang tahu bahwa ia punya peran dalam membangun dunia, merealisasikan rencana keselamatan Allah. Tak banyak orang menyadari kerja di balik layarnya; apalagi zaman sekarang ini, ada begitu banyak sarana supaya dari balik layar orang bisa menongolkan mukanya di depan layar.

Ya Allah, semoga kemuliaan-Mu semata yang kuwartakan dalam tutur kata dan tindakanku sehingga setiap orang yang kujumpai dapat mengenal Engkau lebih baik daripada sekadar terpukau oleh kehebatan duniawi.


JUMAT MASA BIASA XII B/1
26 Juni 2015

Kej 17,1.9-10.15-22
Mat 8,1-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s