Pintu Teater Telah Dibuka

Orang boleh menyebut kematian, kegagalan, penolakan, kemiskinan, kehilangan orang tercinta jika ditanya hal apa yang paling menakutkan dalam hidupnya. Akan tetapi, jika kita amati hiruk pikuk dunia sekitar (TV yang selalu menyala dengan suara keras, bunyi notifikasi smartphone, hingar bingar clubbing, simpang siur berita, absurdnya kinerja institusi kenegaraan, perilaku-perilaku yang keluar dari pakem orang biasa), tampaknya kelihatan bahwa hal yang paling ditakuti orang adalah kesepian. Orang tak sanggup memberi porsi kesepian dalam hidupnya untuk mengakrabi diri sendiri dan Allah yang menjaga eksistensinya. Orang justru cenderung hendak lari dari kesepian; atau, kalau terpaksa sepi, waktu itu dipakainya untuk menyiapkan amunisi supaya ia masih bisa di lain waktu unjuk gigi dengan tongsis atau media lainnya.

Yohanes Pembaptis yang dirayakan Gereja Katolik hari ini memberi kesaksian sebaliknya dengan hidup di padang gurun, yang praktis menjalani segala bentuk puasa juga. Seluruh hidupnya menjadi corong kuat atas semangat yang kita kenal sebagai detachment, lepas bebas, bahkan terhadap hidupnya sendiri, semata karena yang dilakukannya ialah menyerukan kedatangan Allah sendiri.

Injil yang dibacakan hari ini tidak menyodorkan kisah heroiknya (yang disinggung dalam bacaan pertama dan kedua), tetapi peristiwa di seputar kelahirannya: Zakharia jadi bisu dan baru bisa bicara lagi setelah ia memberi konfirmasi bahwa nama anaknya ialah Yohanes. Nama Yohanes tidak familiar dalam trah Zakharia dan memang sudah jadi tradisi bahwa nama anak senantiasa mengikuti nama orang tuanya. Mengapa akhirnya dipakai nama Yohanes?

Zakharia berarti kurang lebih semoga Allah ingat (akan janji-Nya). Nama ini menjadi reminder bangsa Israel selama sekian lama kepada Allah yang menjanjikan keselamatan kepada mereka. Sunat, dalam tradisi Yahudi, memasukkan seorang anak dalam bilangan bangsa Israel. Dengan sunat, ia di’Israel’kan. Akan tetapi, kali ini nama paket sunatnya menyeleweng dari tradisi. Ia tidak menyandang nama sebagai reminder lagi. Nama Yohanes mengacu pada kenyataan bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat kebaikan-Nya.

Artinya? Tak ada lagi yang perlu diingat. Sekarang tinggal melihat bahwa janji itu sedang direalisasikan. Tak perlu lagi mengingat-ingat janji Allah, Dia sedang bekerja merealisasikan janji-Nya. Sayangnya, orang yang tak tahan dengan kesepian takkan jernih melihat janji Allah yang sedang direalisasikan itu. Orang yang tak tahan dengan kesepian juga tak tahan menyisihkan waktu privat untuk meninjau relasi personalnya dengan Allah. Itu seperti orang pergi menonton bioskop dan memang menonton gedung bioskop; atau, masuk ke gedungnya tetapi sejak film mulai disajikan, ia sibuk dengan gawai atau ngobrol dengan temannya.

Ya Tuhan, berilah aku kejernihan hati dan budi untuk melihat bagaimana Engkau bekerja dalam sejarah hidupku, membebaskan aku dari aneka belenggu yang menjauhkan aku daripada-Mu.


HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
(Rabu Biasa XII B/1)
24 Juni 2015

Yes 49,1-6
Kis 13,22-26

Luk 1,57-66.80

Posting Tahun Lalu: Bersyukur Itu Gak Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s